Penertiban Dilakukan Atas Perintah Bupati

Enam Pelayan Kafe Diangkut Satpol PP


riaupotenza.com
Pengarahan - Kabid Damkar Rohul, Arwin Lubis memberikan pengarahan kepada enam pelayan kafe yang diamankan oleh tim gabungan.

ROHUL (RPZ) - Enam pelayan warung remang-remang atau kafe di DK-2 Desa Sei Sitolang, Kecamatan Rambah Hilir terjaring operasi penyakit masyarakat (Pekat) yang dilakukan petugas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).

Ke enam pelayan kafe tersebut bernama Nur (26) warga Aceh, Ami (21) warga Medan, Yun (25) warga Medan, Mur (36) warga Medan, Ulfa (26) warga Medan dan Des (31) wanita asal Bandung, Jawa Barat.

Operasi yang dipimpin oleh Kabid Ops Satpol PP Damkar Rohul Arwin Lubis itu, Rabu (4/4) sekitar pukul 22.00 WIB, mengamankan enam pelayan kafe, juga turut disita sebanyak 11 botol minuman keras merek anker bir dan satu derigen minuman jenis tuak.

Kepala Satpol PP dan Damkar Rohul? Andiyanto SH MH, Kabid Ops Satpol PP dan Damkar Rohul Arwin Lubis, mengatakan enam pelayan kafe diamankan pada operasi itu merupakan pelayan dari Kafe milik Teteh. Pada operasi yang menurunkan 1 pleton atau 30 personel pada Rabu malam.

Para pelayan kafe tersebut langsung digelandang ke Kantor Satpol PP dan Damkar Rohul di KM 2 Pasir Pengaraian untuk dilakukan pendataan malam itu juga.

Arwin mengatakan penertiban dilakukan sesuai perintah Bupati Rohul H Sukiman karena masyarakat Rambah Hilir resah dengan keberadaan warung remang-remang. Ada 2 kafe yang jadi target Satpol PP Rohul untuk ditertibkan di kecamatan ini.

“Pak Camat setempat melaporkan ke pak Bupati (Sukiman) dia tak mau ada kafe atau warung remang-remang di Kecamatan Rambah Hilir,” jelas Arwin.

Diakuinya, enam pelayan kafe belum diberikan sanksi atau upaya hukum, baru sebatas pendekatan dengan membuat pernyataan untuk tidak membuka usaha yang sama, bagi pemilik (Teteh). Sementara, para pelayan juga dibuat surat pernyataan tidak mengulangi pekerjaan yang sama di Rohul.

“Seandainya mereka melakukan itu lagi, membuka usahanya kembali baru kita angkat kasusnya,” tegasnya.

Arwin mengaku seluruh kafe di kecamatan di Kabupaten Rohul akan ditutup oleh Satpol PP Rohul, namun masih menunggu koordinasi Camat masing-masing kecamatan.

Sejauh ini, ungkap Arwin, Satpol PP Rohul sudah menertibkan warung remang-remang di Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Rambah Hilir, sedangkan di Kecamatan Ujung Batu dan Kecamatan Rambah segera dilakukan.

“Kalau di Kecamatan Ujung Batu menunggu koordinasi dengan pihak kecamatan, sebab di sana besar, harus dilakukan bersama-sama,” tandas Arwin.

Sementara, pemilik kafe di Desa Sei Sitolang, Teteh, mengaku usahanya sudah berjalan dua tahun. Diakuinya, para pelayan yang bekerja di kafenya rata-rata datang sendiri dan mencari kerja.

Para pelayan kafe, diakuinya hanya mendapatkan tip dari hasil penjualan minuman. Untuk sepasang bir pelayan mendapatkan Rp 25 ribu, sedangkan untuk minuman tuak pelayan mendapatkan tip Rp 5 ribu per teko atau kong yang terjual.

Dia juga mengaku, faktor ekonomi dan susahnya mencari lapangan kerja merupakan salah satu penyebab dirinya membuka usahan yang melanggar Perda Pekat di Rohul itu.

“Saya tau ini salah, tapi saya cuma nyari makan,” kata Teteh mengaku jika ada usaha lain yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, ia berjanji akan menutup usaha kafe miliknya.

Sementara, salah seorang pelayan mengakui mereka hanya sebatas sebagai pelayan saja, tidak melayani pelayanan plus para hidung belang. Mereka juga hanya mengharapkan tip dari minuman yang terjual.

“Walaupun banyak yang menawarkan akan memberi imbalan uang dengan jumlah besar, kami tidak mau melayani permintaan yang macam-macam,” kata salah seorang pelayan Kafe yang berkaca mata itu. pm/rpg