Nasib Arbain, Marbot Musala yang Kehilangan Bola Mata


riaupotenza.com
DIRAWAT-Arbain saat menjalani perawatan di RSUD Puri Husada Tembilahan.

TEMBILAHAN (RPZ) - Sejak Tahun 1992 silam, Arbain (39) warga Jalan Pelajar, Kelurahan Tembilahan Hulu, Kecamatan Tembilahan Hulu mendapat cobaan dari Allah SWT. Suatu kecelakaan membuat mata sebelah kirinya sulit untuk melihat secara jelas.
 
Sejak saat itu, Arbain tidak bisa bekerja secara maksimal. Beruntung dirinya dipercaya masyarakat menjadi seorang marbot di sebuah Musala di Lorong Kecubung Jalan Pelajar Kecamatan Tembilahan Hulu.
 
Namun, kali ini Allah kembali menguji iman Arbain. Dirinya harus kembali kehilangan bola mata sebelah kanannya akibat sebuah insiden yang tidak terduga.
 
Ditemui awak media di ruangan Neurologi RSUD Puri Husada Tembilahan, Arbain yang terlihat terbaring lemah menceritakan kronologi awal mula kejadian mengerikan tersebut, Jumat (30/3).
 
Menurut Arbain, saat itu Kamis (29/3) sekitar pukul 16.30 WIB sore dirinya sedang melakukan pekerjaan rutin yaitu bersih-bersih dan menyapu ruangan musala. Setelah selesai, dirinya berencana menuju pulang ke rumah, namun saat akan menutup pintu ternyata ada sebuah papan yang ingin ia hindarkan karena hampir membentur kepalanya sehingga dirinya reflek memalingkan wajah ke arah kanan.
 
Nasib naas menimpa, saat reflek mengelak tersebut ternyata mata sebelah kirinya terbentur di sudut mimbar yang ada di lokasi sehingga mengakibatkan matanya mengeluarkan cukup banyak darah segar.
 
“Selepas terbentur saya tidak tahu seberapa parah luka di mata saya. Saya pulang ke rumah yang tidak jauh dari lokasi dengan wajah masih berlumuran darah,” cerita Arbain.
 
Sesampainya di rumah, keluarga Arbain yang melihat wajah Arbain berlumuran darah sangat terkejut bahkan ibunda Arbain sampai pingsan terkulai tak berdaya.
 
“Keluarga langsung membawa saya ke rumah sakit,” lanjut Arbain.
 
Akibat dari peristiwa tersebut, mata sebelah kiri Arbain akhirnya harus dioperasi dan diangkat karena bola matanya pecah akibat benturan keras saat kejadian itu.
 
“Yang sebelah kanan ini kata dokter semalam mau diberi mata palsu, tapi menurut keluarga jika tidak memungkinkan maka tidak usah saja. Karena biayanya cukup mahal untuk orang ekonomi rendah seperti kami,” imbuh Arbain dengan raut wajah sedih.
 
Hingga kini, Arbain masih terus dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan di ruangan Neurologi Tulip 3 sambil dijaga oleh keluarganya.
 
Beruntung saja, Arbain sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan sehingga biaya pengobatannya selama di rumah sakit sedikit terbantu.
 
Namun, karena kondisi ekonomi serta keterbatasan fisik membuat Arbain berharap ada bantuan dari pemerintah melalui instansi terkait serta uluran tangan dari para dermawan.rin