Kapolsek dan Camat Diminta Bertindak

Karaoke di Panipahan Sediakan Wanita Malam


PANIPAHAN (RPZ) - Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pekanbaru asal Kecamatan Pasir Limau Kapas, gerah dengan adanya tempat karaoke yang menyediakan wanita penghibur. Dimana para wanita penghibur ini didatangkan dari Sumatera Utara. 

Demikian dikatakan Ketua Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kecamatan Pasir Limau Kapas (HPPMP) Pekanbaru Wais Alqurni, Ahad (1/4) kemarin.

Bahkan untuk memastikan hal ini, sejumlah mahasiswa yangg tergabung dalam Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kecamatan Pasir Limau Kapas (HPPMP) Pekanbaru beserta sejumlah Organisasi Pemuda lainnya, meninjau salah satu tempat hiburan malam karaoke family yangg terletak di kota Panipahan akhir pekan lalu.

“Berdasarkan pengaduan masyarakat, sejumlah mahasiswa dan perwakilan organisasi pemuda lainnya langsung melakukan peninjauan ke lokasi. Mereka menemukan banyak wanita malam yang tengah huru hara asik karaoke melayani pengunjung yang berlatar belakang dari suku Tionghoa,” kata Wais.

Jadi berdasarkan fakta yang telah dilihat secara langsung, ada empat hal yang ingin disampaikan para mahasiswa dan pihaknya  ingin publik mengetahui realitas yang terjadi yang membuat masyarakat resah.

“Pertama, kami paham betul bahwa tempat hiburan ini telah diberi izin oleh pihak pemerintah kecamatan setempat, namun itu kan hanya sebatas izin karaoke keluarga, bukan untuk melegalkan praktek asusila dengan mendatangkan wanita malam dari luar daerah. Hal ini yang telah melanggar izin dan kita harus jaga marwah kampung halaman,” ujar Wais.

Kedua, saat dipertanyakan kepada salah seorang penjaga di tempat karaoke tersebut, ia mengaku tidak pernah mendatangkan wanita wanita tersebut. “Ia mengatakan wanita tersebut datang sendiri untuk mencari uang dan ia berdalih jika ingin informasi lebih lanjut silahkan jumpai pemilik karaoke ini,” ujar salah seorang penjaga tempat hiburan tersebut yg bersuku tionghoa, jadi kami menilai ini sebuah alasan yang tak logis karena tak mungkin orang luar seperti dari Medan faham dengan daerah Panipahan kalau tak  ada yang mendatangkan.

“Ketiga, ketika saya dan kawan-kawan mahasiswa tanyakan langsung kepada salah seorang wanita tersebut, ia mengaku berasal dari Medan. Namun saat kami tanyakan siapa yang membawa, mereka tidak menjawab dan langsung masuk ke room ganti baju di tempat karaoke tersebut,” ujar Wais.

Keempat, ini satu hal yang kami cukup kesalkan saat ingin mengambil dokumentasi sebagai bukti untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang yakni Kapolsek Panipahan, salah seorang warga bernama Sipul Panipahan melarang dan menghadang untuk mengambil dokumentasi dan sempat terjadi adu mulut.

“Ia beralasan dengan rasionalisasi bahwa pihak kecamatan telah mengetahui informasi tersebut. Jadi atas peristiwa tersebut kami selaku mahasiswa menuntut kepada pihak keamanan dalam hal ini Kapolsek Panipahan agar bertindak tegas dengan memulangkan wanita malam ini. Karena tidak ada izin untuk mendatangkan wanita malam. Kami juga menuntut izin usaha ini harus diperjelas lagi dengan lampiran aturan aturan yang lebih jelas lagi. Karena secara pakta kami berpandangan ada dugaan praktek maksiat beroperasi di karaoke keluarga tersebut,” papar Wais.

Pihaknya berharap kepada Kapolsek dan Camat segera bertindak apalagi pihaknya tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan seperti yang terjai pada Idul Adha tahun lalu. “Kita akan lindungi daerah kita dari azab maksiat. Jadi kita harap pak Kapolsek dan Camat segera bertindak,” pungkasnya.Der