Hapus Korupsi dari “Bumi Melayu Riau"


riaupotenza.com

Oleh : Suryani, Mahasiswi STIE Riau-Pekanbaru.

(Berdomisili di Kabupaten Bengkalis)

KITA semua mengetahui bahwa dunia sekarang lagi maraknya dengan namanya korupsi. Korupsi adalah suatu tindakan maupun perbuatan yang melanggar hukum. Korupsi masih terjadi secara sistematis.

Praktiknya bisa terjadi dimanapun, di lembaga Negara, lembaga privat, anak sekolah, Lingkungan RT, RW  maupun dikehidupan sehari-hari. Melihat kondisi ini, ada beberapa strategi dalam pemberantasan korupsi yaitu, Pertama, cara memerangi korupsi harus dari dalam diri sendiri. Tanamkan dalam diri kita untuk tidak melakukan kejahatan korupsi.

Kemudian, kedua, melaksanakan pendidikan anti korupsi untuk generasi masa depan negara dan bangsa. Ketiga, hendaknya Pemerintah membuat peraturan yang bisa membuat para koruptor jera untuk melakukan korupsi. Selanjutnya, Keempat, seandainya hukum itu kokoh berdiri, mungkin koruptor dengan sendirinya akan melemah perkembagannya. Kelima, untuk para pejabat jangan mengambil kesempatan disaat anda memegang amanah dan tanggungjawab untuk rakyat.

Selanjutnya, Keempat, seandainya hukum itu kokoh berdiri, mungkin koruptor dengan sendirinya akan melemah perkembagannya. Kelima, untuk para pejabat jangan mengambil kesempatan disaat anda memegang amanah dan tanggungjawab untuk rakyat. Dan terakhir, Keenam, Terhadap masyarakat awam, kepekaan terhadap Tipikor wajib diajarkan mengingat kondisi sekarang yang sangat “urgent”.

Jangan jadikan jabatan sebagai jembatan untuk melakukan korupsi. Pikirlah, dengan hal buruk yang kita lakukan masyarakat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban. Nilai tukar Rupiah selalu goyah, tentunya kondisi seperti ini akan terus berlanjut hingga para koruptor hilang dari peredaran dan satu persatu kita kikis habis dipenjarakan.

Ironisnya lagi, gara-gara korupsi semua bisa jadi kacau, bukan saja kerugian materi, lebih parahnya adalah tergerogotinya moral generasi bangsa dari waktu ke waktu hingga membudaya. Relakah anak-anak kita kelak berperilaku arogan, tak santun dengan orang tua dan bangsa serta tidak lagi mampu membedakan hak dan kewajiban.

Pada titik akhir kembali kepada diri kita sendiri, bahwasannya tugas para pejuang dan pahlawan belum selesai melawan penjajah, saat sekarang pun kita masih dihadapkan dengan musuh yang lebih licik yaitu koruptor. Sudah saatnya rakyat berteriak, Hapus Korupsi dari Bumi Melayu Riau”. Jangan segan-segan lawan, bongkar, laporkan, dan brantas Koruptor sebagai jawaban komitmen nasional terhadap gerakan moral bangsa.

Korupsi lebih berbahaya dari penyakit AIDS, AIDS akan menular sama orang yang melakukan satu jarum suntik atau yang berhubungan badan dan mungkin melalui cairan-cairan. Sedangkan korupsi berefek kepada semua rakyat.

Contohnya, seperti kasus yang baru-baru ini yang menjadi laman pemberitaan media cetak dan elektronik, kasus korupsi PT.BLJ yang dilakukan oleh mantan Bupati Bengkalis Herliyan Saleh hingga dia divonis 6 tahun penjara. Dana yang dialokasikan kepada BLJ dalam anggaran Pendapatan dan Belanja Bengkalis Tahun 2011 itu adalah senilai Rp300 miliar.

Sedianya dana itu diperuntukkan untuk pembangunan dua unit pembangkit listrik di Bengkalis, tetapi malah disalurkan oleh PT. BLJ ke sejumlah anak perusahaan.  Total kerugian negara dalam fakta persidangan pidana korupsi saat itu adalah sebanyak Rp 270 miliar. Bayangkan saja ini baru dilakukan oleh beberapa oknum, jika sampai bumi kita dikuasai oleh pejabat yang seperti ini otomatis masalah korupsi tidak akan ada habisnya.

Saya sebagai mahasiswi dari kampus STIE Riau Pekanbaru prihatin dengan Bumi Melayu Riau, ini mengakibatkan semua rakyat Riau adalah korbannya sang Koruptor. Ini kan sudah jelas para oknum menyalah gunakan dana yang ada. Seharusnya oknum yang bermoral baik akan melaksanakan tugasnya dengan baik pasti rakyat juga merespon dengan baik dan hidup rakyat sejahtera.

Korupsi sangat berdampak negatif terhadap rakyat dan negara, karena korupsi dana yang seharusnya dipergunakan untuk membuat bangunan malah terbengkalai dan sering terabaikan. Untuk bantuan masyarakat kecil seperti untuk sekolah gratis, sembako murah untuk  hidup lebih layak lagi malah disalah gunakan. Saya kecewa, mana buktinya dana untuk mensubsidi biaya sekolah yang konon gratis tapi ternyata lebih mahal. Dan saya selaku mahasiswi STIE Riau sampai saat ini belum pernah merasa atau mendapatkan biaya yang gratis. Dengan ada korupsi ini pula membuat negara kita banyak mempunyai hutang kepada negara lain.(***)