Dari Analisis Walhi Riau, 2.500 Ha Lahan PT NSP Telah "Dilalap" Api


riaupotenza.com
ILUSTRASI/NET/ISTIMEWA

SELATPANJANG(RPZ)-Mengantongi izin konsesi seluas lebih kurang 21.620, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau mencatat terdapat 13 titik hot spot dengan konfidence lebih dari 70 persen di areal PT NSP.

Bahkan, pernyataan yang dikirim melalui press realise itu mengungkapkan hasil analisis mereka (Walhi Riau) pada 8 Maret 2018 lalu, terdapat kurang lebih 2.500 hektar lahan PT NSP telah dilalap "si jago merah".

"Hasilnya terdapat tiga blok besar dan tiga blok kecil bekas kebakaran, setelah diukur besarannya sekitar 2.500 hektare," ungkap Dirut Walhi Riau Riko Kurniawan, Rabu (14/3) siang.

Atas hal itu, Riko menganggap pihak PT NSP tidak mau mengintrospeksi diri atas kejahan masa lalunya, walaupun proses kejahan itu berujung pada tuntutan Rp. 1,1 Triliun oleh KLHK.

"Tidak ada perbaikan dari mereka, dan itu semakin mengukuhkan tidak adanya itikat perbaikan yang dilakukan oleh Anak Perusahaan Spoerna Agro TBK atas kejahan masalalunya tersebut," kata Riko. 

Selain itu, Walhi juga membongkar aturan yang dikangkangi oleh PT NSP. Hal itu dimulai tidak adanya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).

Berbagai aktivitas dan pengingkaran terhadap aturan yang ada dilakukan PT NSP dimulai dengan ketiadaan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) nya. 

"Mereka tidak mengamgomgi AMDAL, yang mereka gunakan itu AMDAL hak pengusahaan hutan tanaman industri murni sagu, dan itu atas nama PT Nasional Timber and Fores Product (NTFP)," ujarnya.

Staf WALHI Riau ini juga memaparkan lambatnya penindakan terhadap pelanggaran dan kejahatan lingkungan hidup oleh aparat kepolisian.(Wira)