Garuda Indonesia Rugi Rp 2,88 Triliun


riaupotenza.com

JAKARTA (RPZ) -- PT Garuda Indonesia (Persero) menelan kerugian sangat besar sepanjang 2017 lalu. Maskapai pelat merah itu merugi USD 67,6 juta di luar tax amnesty dan denda pengadilan.

Kerugian berhasil ditekan dari sebelumnya USD 138 juta pada semester pertama 2017. Jika dikolaborasi dengan pembayaran tax amnesty dan denda pengadilan kasus hukum di Australia, Garuda Indonesia mengalami kerugian USD 213,4 juta atau sekitar Rp 2,88 triliun (USD=Rp 13.500).

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pahala N Mansury menyatakan, pada 2017 biaya operasi perseroan harus terkerek 14,4 persen karena kenaikan harga minyak. ’’Biaya yang kami rasakan dari fuel (bahan bakar) memang meningkat cukup signifikan secara tahun demi tahun,’’ kata Pahala di kantor pusat Garuda Indonesia kemarin (26/2).

Pihaknya mencatat, biaya kenaikan bahan bakar minyak mencapai 25 persen tahun lalu. Pada 2016 biaya untuk bahan bakar tercatat USD 924 juta. Setelah itu, naik menjadi USD 1,15 miliar pada 2017.

Garuda berniat melakukan hedging (lindung nilai) avtur untuk memitigasi kenaikan harga minyak dunia. ’’Soal avtur, kami melakukan yang namanya hedging tahun ini. Hedging kami kisarannya masih di bawah 50 persen, tapi sudah jauh meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan hedging 2017,’’ kata Pahala. Pihaknya berharap hedging tersebut bisa mengelola konsumsi untuk produksi yang efisien dan bisa mengendalikan biaya bahan bakar.

Sementara itu, sepanjang 2017 Garuda Indonesia Group mengangkut 36,3 juta penumpang. Perinciannya, 24 juta penumpang Garuda Indonesia sebagai mainbrand dan 12,3 juta penumpang Citilink.

Jumlah tersebut meningkat 3,5 persen dibandingkan dengan 2016, yakni 35 juta penumpang. Selama 2017 Garuda juga mencatatkan peningkatan tren pertumbuhan traffic penumpang internasional sebesar
8,1 persen. Garuda Indonesia melalui anak usaha Citilink berhasil mencatatkan pertumbuhan penumpang 10,8 persen.(alan/rpz)