April Eksyen Limbah Sawit Bakal Jadi Algae


riaupotenza.com
Suasana FGD, Bupati Pelalawan HM Harris bersama peneliti dan investor membahas rencana mengolah limbah sawit menjadi alga 

PANGKALANKERINCI-Kalau selama ini sebagian masyarakat hanya beranggapan kalau alga yang sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan hanya bisa didapatkan dari  dasar laut. Tapi, asumsi itu bakal terbantahkan. Karena, Kabupaten Pelalawan yang tidak memiliki laut dalam juga bakal memproduski algae dan akan menjadi produk unggulan daerah. Rencananya alga dari limbah sawit ini akan terwujud hasil kerja sama Pemkab Pelalawan denganJepang yang dimulai April mendatang.

‘’Ini merupakan bagian dari mewujudkan fungsi Techno Park Pelalawan dalam kaitan pengembangan teknologi dan peningkatan daya saing produk unggulan daerah,’’jelas Bupati Pelalawan HM Harris melalui Kepala Bappeda Ir Muhammad Syahrul Syarief,M.Si, Ahad (25/2).

‘’In syaa April mudah-mudahan sudah dimulai,’’imbuh Syahrul menjawab kapan realisasi dari kerjasama yang sudah disepakati Pemkab Pelalawan dengan pihak Jepang tersebut.

Dikatakan Kepala Bappeda, investor Jepang tertarik menanamkan investasi pengolahan limbah cair sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi algae di Kawasan  Teknopolitan sawit di Pelalawan, Provinsi Riau. Dari aspek ekonomi, teknologi ini  ini membantu perusahaan maupun petani dalam peningkatan kesejahteraan karena dapat memperoleh benefit dari penjualan alga (ganggang) berbasis limbah. Bukan itu saja, pengolahan limbah sawit ini  menekan emisi gas rumah kaca di industri sawit sesuai program pemerintah Joko Widodo-Jusuf  Kalla.

Kans ini sebut Syahrul dikatakan Group Chairman eBioTechnology Holding Pte Ltd  Toshihide Nakajima dan Professor Algae Biomass and Energy System R&D Center Universitas Tsukuba Jepang, Dr Sc Makoto Watanabe.

‘’Kamis (22/2)  lalu kan digelar  Focus Group Discussion (FGD), Peningkatan Nilai Ekonomi Limbah Cair Kelapa Sawit dan Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Dengan Budidaya Ganggang. Dan inilah salah satu peluang yang akan kita tangkap dan segera direalisasikan. Tak hanya menguntungkan daerahh, tentunya juga masyarakat,’’ungkapnya sambil menyebutkan FGD tersebut berlangsung  di Gedung Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan, di Kelurahan Langgam.

Disebutkan Syahrul seperti yang disampaikan Bupati Pelalawan HM Harris dalam agenda tersebut, Pemkab Pelalawan menyambut baik kedatangan investor dari Jepang ini karena mendukung pengembangan Kawasan Teknopark Sawit Pelalawan.  Selain itu, kehadiran investasi teknologi pengolahan limbah sawit ini punya dampak positif dan bernilai  tambah bagi perekonomian masyarakat petani sawit yang modern.

Menurutnya, untuk mendukung investasi, pihaknya berjanji membantu kemudahan perijinan.  Kendati demikian, pemberian ijin tetap mengacu regulasi daerah dan pusat. Dukungan lain imbuhnya adalah kawasan Tekno Park ini mempunyai luas 3.700 hektare yang terbagi enam zona kawasan untuk pembangunan pabrik.

‘’Saya berharap pertemuan memberikan dampak dan nilai lebih bagi perekonomian  masyarakat, petani sawit yang modern,serta kedepan menghasilkan sumber daya masyarakat yang siap bersaing secara global sesuai dengan Visi Misi Presiden Joko Widodo bersaing secara global menuju Indonesia emas 2045,’’harap Bupati saat itu sambil menyebutkan 70 persen masyarakat Pelalawan dengan mata pencarian sebagai petani kelapa sawit.

‘’Pak Bupati mengatakan Pemkab pelalawan berkomitmen dengan menghadirkan Teknopark yang terluas di Indonesia dengan total luas lahan 3700 hektar dengan enam zona pembangunan yang merupakan salah bentuk dukungan kita dalam mewujudkan Indonesia Emas dan sumber daya manusia yang bersiap saing secara global,’’paparnya. 

Menurut Syahrul, Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga yang hadir di kesempatan itu memaparkan di Kabupaten Pelalawan, jumlah pabrik sawit mencapai 27 unit dan 6 diantaranya mempunyai fasilitas penangkapan gas metan (methane capture). Sedangkan, 21 unit lain belum dilengkapi methane capture dengan total kapasitas pengolahan berjumlah 1.125 ton TBS per hari atau setara 900 ton POME per jam. Potensi inilah yang menjadi pertimbangan investor Jepang untuk membangun fasilitas produksi alga.

Dijelaskan juga, ada 8 unit pabrik sawit dalam radius 20  kilometer di kawasan Tekno Park yang dapat memasok 360 ton POME per jam untuk diolah menjadi alga. Konsorsium Investor Jepang menjadi pembeli siaga (offtaker) produk alga tersebut. Direncanakan  alga tadi dapat diolah lagi menjadi docosahexaenoic acid (DHA).Dalam pandangan Sahat, seperti yang disampaikan Syahrul, teknologi pengolahan limbah cair menjadi alga mempunyai efek multi ganda (multiplier effect) kepada perekonomian lokal dan petani rakyat. Apabila dibangun fasilitas pengolahan alga, maka dibutuhkan konsorsium bersama antara investor Jepang dan Badan  Usaha Milik Daerah (BUMD). Keterlibatan BUMD inilah yang akan berkontribusi kepada kas pemasukan daerah. Sementara itu, bagi pabrik sawit tidak lagi bergantung kepada penjualan minyak sawit mentah (CPO) apabila sudah ada produk alga dapat meningkatkan produk alga tersebut.

Teknologi ini dapat mengurangi jumlah kolam limbah sawit di pabrik, sehingga dapat mengurangi pengeluaran gas emisi rumah kaca. Artinya, pengolahan limbah cair ini berdampak positif kepada lingkungan dan program pemerintah.

Tenaga ahli  Jepang, Toshihide Nakajima dan Prof Makoto Watanabe dari Tsukuba University Japan menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan studi kelayakan (feasibility study) proyek investasi pengolahan POME menjadi alga pada April 2018. Studi ini melibatkan peneliti Indonesia dan PT Nutri Palma Nabati. Harapannya, studi kelayakan ini dapat selesai dalam jangka waktu enam bulan. Diperkirakan pembangunan fasilitas  produksi alga dari limbah sawit memerlukan dana antara US$ 30 juta-US$ 60 juta.

Studi kelayakan itu sendiri katanya, untuk mengetahui berapa kapasitas produksi yang bisa dihasilkan dengan investasi tadi. ‘’Kami masih menunggu hasil studi kelayakannya,”paparnya.

Studi kelayakan melibatkan Universitas Tsukuba dan PT Nutri Palma Nabati. Presiden Direktur PT Nutri Palma Nabati, Darmono Taniwiryono, mengatakan rancangan studi berjalan April tahun ini dengan pendanaan dari Jepang. Dalam studi ini akan ada kombinasi antara Jepang dan Indonesia, teknologi Jepang mengenai pembudidayaan alga yang tidak berklorofil nantinya menghasilkan DHA dan minyak ester berkualitas tinggi untuk kosmetik.

Darmono menambahkan dari Indonesia berkontribusi kepada teknologi penyaringan POME untuk menekan volume Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Jadi, POME tadi harus diencerkan untuk dapat diolah menjadi produk alga. Targetnya, pembangunan fasilitas alga  berada di  sembilan unit pabrik sawit di wilayah Pelalawan.  Selain itu, konsorsium Jepang akan membangun pabrik untuk mengolah alga menjadi DHA dan minyak ester. Pemasaran produk alga ditujukan kepada pasar ekspor.

Di Jepang, sumber bahan baku alga bersumber dari lemak ikan laut dalam. Alga mempunyai kandungan fatty acid yang sangat berguna menjadi komponen pembuatan kosmetik dan farmasi. Namun saat ini, tidak mudah mendapatkan sumber bahan baku algae ditambah  lagi produksi kian tinggi. Watanabe mengakui limbah cair minyak sawit sangat cocok diolah menjadi alga dibandingkan minyak nabati lain.  Kesesuaian ini berdasarkan faktor  melimpahnya bahan baku dan kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) dapat diolah menjadi 20 ppm.

Selain Bupati HM Harris, Wabup Drs H Zardewan,MM dan pimpinan OPD serta tokoh masyarakat serta  pihak Jepang hadir pula  Ketua Umum APOLIN Rapolo Hutabarat, Pengurus DMSI, Mustafa  Daulay,  Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) Darmono Taniwiryono.

Setelah usai diskusi, Bupati Pelalawan HM Harris bersama dengan Toshihide Nakajima dan Prof.Makoto Watanabe menyempatkan diri untuk mengunjungi dan melihat langsung pengolahan sawit dan tata kelola limbah cair dari Perusahaan PTMitra Sari Prima (MSP ) dan PT Mitra Unggul Pusaka ( MUP) di Desa Segati, Langgam.amr