Sabetan Penghargaan dari Kapolda

Fibri Bercita-cita Air Kuantan Bening Lagi


riaupotenza.com
Kapolres Kuansing AKBP Fibri Karpiananto menerima penghargaan dari Kapolda Riau Irjen Pol Nandang sebagai Polres  terbaik se Riau dalam penanganan illegal mining (PETI) dan illegal loging.

Kuansing (RPZ)--Kapolres Kuansing AKBP Fibri Karpiananto menerima penghargaan dari Kapolda Riau Irjen Pol Nandang sebagai Polres 

terbaik se Riau dalam penanganan illegal mining (PETI) dan illegal loging.

Pada acara yang digelar di Hotel Pangeran, Rabu (14/2) lalu tersebut, Polres Kuansing dinilai terbaik dalam penanganan dan pengungkapan kasus illegal mining (PETI) & illegal loging dibandingkan dengan Polres-polres lain di Jajaran Polda Riau.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Irjen Nandang berpesan kepada Kapolres Kuansing agar kinerja tersebut dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Penghargaan  ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan pimpinan Polda terhadap upaya-upaya yang sudah dilaksanakan oleh Kapolres Kuansing berserta jajarannya.

"Terutama dalam memerangi illegal logging dan khususnya illegal mining (PETI) yang memang marak di Kuansing," katanya.

Sementara Kapolres Kuansing AKBP Fibri Karpiananto mengucapkan terima kasih kepads pimpinan atas apreasinya dan berjanji akan mempertahankan dan meningkatkan upaya pemberantasan illegal mining dan logging.

"Mohon dukungan dari seluruh elemen masyarakat Kuansing dan stake holder yang ada khususnya utk pemberantasan PETI," katanya.

Menurutnya, praktik PETI merusak alam dan kedepannya alam akan membalas kalo dirusak. Sehingga alam harus dijaga sehingga bisa dinikmati generasi akan datang.

"Saya bercita-cita ingin melihat paju jalur dgn kondisi air sungai taluk yang jernih," harapnya.

Ia mengungkapkan ada beberapa  upaya yang dilakukan Polres Kuansing sehingga berhasil mendapatkan penghargaan tersebut. Diantaranya, pembentukan Satgas Merkuri sejak oktober 2017 yang telah berhasil mengungkap 16 kasus PETI, menangkap 24 orang tersangka dan menyita sebanyak 1318,7 gram cairan merkuri.

"Sepanjang tahun 2017 kita mengungkap 50 kasus dengan 82 orang tersangka," katanya.

Ia juga terus melakukan penertiban dengan merusak atau membakar ratusan perlatan PETI/mesin dompeng sebagai menimbulkan efek jera. Selain itu, pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi pencegahan PETI dengan cara audensi, pemasangan spanduk, penyebaran maklumat dan himbauan melalui media.(cil)