Hasil Plintiran Survey Indonesia Most Livable city (MLCI) 2017 

Berita Pekanbaru Tidak Layak Huni Ternyata  HOAXs


riaupotenza.com
Mawardi, Kabid Pengelola Layanan Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Kota Pekanbaru.

PEKANBARU (RPZ)—Berita yang tersebar di berbagai media sosial yang menyebutkan Pekanbaru masuk dalam kelompok Kota tidak Layak Huni di Indonesia ternyata hanya berita bohong alias hoax, dan berita tersebut  ternyata hasil plintir berita dari hasil survey Indonesia Most Livable city (MLCI) 2017 yang dilakukan Ikatan Ahli Perencana (IAP).
 
Demikian dijelaskan Mawardi Kabid Pengelola Layanan Informasi dan Kominikasi Publik Dinas Kominfo Kota Pekanbaru  melalui siaran pers resmi Pemerintah Kota Pekanbaru yang dimuat pada website resmi Pemerintah Kota Pekanbaru www.pekanbaru.go.id.
 
Dijelaskan Mawardi, bahwa sejak awal informasi ini beredar di awal Februari 2018 lalu, yang menempatkan Pekanbaru sebagai Kota yang tidak nyaman dan tidak layak huni di Indonesia dengan sumber info disebut Kementerian Agraria,  Walikota Pekanbaru  DR H Firdaus ST MT memerintahkan Dinas Kominfo Kota Pekanbaru untuk melakukan penelusuran terhadap kebenaran informasi ini.
 
Atas perintah langsung ini, Dinas Kominfo  melakukan penelusuran secara manual dan konvensional kepada pihak agraria yang disebut-sebut dalam berita itu,  kenyataannya pihak agraria menolak dan membantah telah menerbitkan penetapan rangking kota layak huni dan tidak layak tersebut. Dan penelusuran lainnya akhirnya ditemukan bahwa penetapan Kota layak dan tidak layak huni itu dikeluarkan IAP, dengan bukti berita yang terbit di salah satu media nasional yang menyebutkan bahwa dari survey yang dilakukan IAP menyebutkan bahwa Kota Solo masih menempati posisi sebagai Kota yang paling nyaman di Indonesia.
 
Dalam berita resmi tersebut juga disebutkan bahwa survey yang dilakukan di tahun 2017  tersebut dengan cara memilih 26 yang dinilai layak huni  di Indonesia dari 98 Kota yang ada di Indonesia, yang artinya Pekanbaru justru dinilai dalam kelompok Kota pilihan layak huni bersama Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makasar.

“Dari 26 Kota tersebut, Solo berada pada Indeks 66,9 dengan sebutan kota paling nyaman di antara 26 kota yang nyaman yang masuk dalam survey, sedangkan Pekanbaru berada pada indeks 57.8  dengan indeks terendah 55.7  untuk Kota Makasar, Namun yang perlu dicatat 26 Kota yang disurvey tersebut adalah kota nyaman dan layak huni di Indonesia dari 98 kota yang ada," jelasnya.
 
Hanya saja disesalkan Mawardi bahwa indeks Kota layak Huni tersebut, dipilintir oleh pihak dan oknum tertentu di Riau, dimana indeks Pekanbaru  yang berada di bawah Solo bersama 9 Kota lainnya malah disebut dan diumumkan sebagai kota paling tidak nyaman di Indonesia.
 
“Seharusnya survey yang menggunakan sistim sampel  tidak bisa  menghasilkan peringkat. Saat survey Pekanbaru dipilih sebagai sampel bersama 25 Kota layak huni dan Kota besar lainnya di Indonesia, tetapi output dari survey itu justru menghasilkan peringkat, dimana suvey dan responden yang diambil juga tidak proporsional dengan menyebar angket kepada 100 orang warga Kota yang berpenduduk 1.1 juta jiwa.  Ini sudah tidak sesuai dengan metedologi akademik penelitian,’’ ujar Mawardi.
 
Ditambahkan Mawardi lagi, bahwa  disini terlihat betapa penyebaran informasi itu sangat bertolak belakang dengan fakta yang ada, dan begitu banyak fakta yang terbantahkan. “Pekanbaru dalam tujuh tahun terakhir telah meraih berbagai prrestasi yang sangat membanggakan, seperti, Pekanbaru 4 Tahun berturut-turun ditetapkan sebagai Kota Tujuan investasi terbaik di Indonesia dari kajian Depdagi, Bappenas, dan media grup Nasional, Kalau Kota ini tidak nyaman dan tidak layak huni, maka musthail para pelaku usaha berminat  berinvestasi di Kota ini,’’ ujar Mawardi.
 
Fakta lainnya menurut Mawardi, Pekanbaru menurut indeks dari Bank Indonesia adalah Kota yang perputran uang nomor satu di luar pulau Jawa, maka kalau kota ini tidak nyaman, sangat mustahil terjadi perputran uang dan ekonomi yang sangat besar.
 
“Kita tahun bahwa ada tujuh hal yang dinilai di dalam MLCI 2017. Mulai dari kualitas lingkungan, dukungan fungsi ekonomi, sosial, dan budaya kota, serta partisipasi masyarakat dalam pembangungan. Berikutnya ketersediaan ruang publik sebagai wadah berinteraksi antar komunitas, serta keamanan dan keselamatan. Ketersediaan kebutuhan dasar meliputi perumahan yang layak, air bersih, jaringan listrik, sanitasi hingga ketercukupan pangan. Terakhir, ketersediaann fasilitas umum dan fasilitas sosial, seperti transportasi umum, taman, hingga fasilitas kesehatan, tetapi semua itu dapat terpenuhi di Kota Pekanbaru dengan mudah, murah dan cepat.
 
Mawardi juga secara halus menyebutkan, bahwa  dari informasi yang berkembang di media-media nasional bahwa sebenarnya berita dan indeks kota ternyaman ini dikeluarkan pada tanggal 1 Februari 2018 tersebut  adalah salah satu gerakan  menggedor 100 hari kinerja Anies-Sandi di Jakarta,  tetapi kemudian  ada pihak yang memanfaatkan untuk menjatuhkan Pekanbaru karena Walikotanya maju pada Pilgubri 2018.
 
“Sayang Sekali, hasil dan dan tujuan survey ini  sudah dipilintir dan disalahgunakan oleh pihak tertentu sehingga menjadi berita bohong alias hoaxs,’’ tegas Mawardi.(rpz)