20 Personel BPBD Berjibaku Padamkan Api

Lahan 30 Hektar Terbakar


riaupotenza.com

MERANTI(RPZ) - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Lukun, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau sudah memasuki hari keempat, sejak 9 Februari 2018 lalu. Setidaknya sudah 100 hektar lahan di desa itu habis dilalap si jago merah.

Dan luas kebakaran diperkirakan akan terus bertambah luas karena kuatnya intensitas angin di lokasi kejadian.  

“Api berawal dari lahan warga desa setempat. Dan kebakaran yang sudah berlangsung selama 4 hari itu sedang dilakukan upaya pemadam oleh TNI, instansi terkait dan MPA setempat,’’ ujar Danramil 04 Tebingtinggi, Mayor Arm Bismi Tambunan SE kepada Pekanbaru Pos, Selasa (13/2).

Hingga saat ini pihaknya dari TNI telah menerjunkan sebanyak 6 orang, dan diikuti oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Meranti sekitar 26 orang, Polsek 5 orang, pihak kecamatan 3 orang, serta 60 orang dari MPA desa setempat.  

Walaupun Karhutla sudah hampir menghanguskan 100 hektar, Danramil menegaskan kebakaran itu tidak masuk ke lahan konsesi PT Nasional Sago Prima (NSP).

“Memang arah angin menuju ke lahan konsesi PT SNP, namun api belum sampai ke daerah mereka. Tim mereka juga sudah siaga dan turut melakukan proses pemadaman,” ujar Bismi.

Selain kencangnya angin, kendala dalam melakukan pemadaman terbentur dengan kontur tanah gambut yang diisi dengan kebun sagu dan semak sehingga mudah terbakar.

Selain itu juga minimnya fasilitas, mengingat georafis Meranti yang berpulau-pulau, ditambah besarnya biaya akomodasi.

“Kita harus lihat geografis Meranti yang terpisah antar pulau. Atas hal itu kita sangat sulit menuju titik api dan membutuhkan anggaran yang cukup besar. Itu belum termasuk jauhnya TKP dari permukiman warga sehingga sulit mendapatkan logistik,” ungkapnya.

Untuk itu, ia sangat berharap besar kepada Pemerintah Provinsi Riau, terutama ke BPBD Riau untuk dapat memberikan perhatian lebih ke Meranti.

“Pada 2015 lalu Meranti diberi cobaan dan masuk daerah sebagai penyumbang asap terbesar di Indonesia, mengingat kala itu BPBD Meranti belum dibentuk. Sekarang sudah memasuki 2018, namun tetap mendapat porsi bantuan yang minim dari pihak provinsi,” ungkapnya. pma