Tragisnya Kepulauan Meranti

Berada di Pulau, Tapi Kok Langka Ikan


riaupotenza.com
Pasar Ikan Sungai Juling, Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti tampak dari laut.

SELATPANJANG (RPZ) - Tragis! Dengan geografis kepulauan, Meranti adalah satu-satunya kabupaten yang warganya kesulitan menemukan ikan segar dengan harga yang terjangkau. 

Fenomena tersebut sudah berlangsung lama. Fakta itu disebabkan oleh sulitnya nelayan asli daerah setempat untuk mendapatkan bahan bakar, batu es, keberadaan toko pesisir yang dikususkan menjual alat kebutuhan menangkap ikan, serta tempat pelelangan ikan (TPI).

Hal itu juga sempat dibenarkan oleh Jasmas, salah seorang nelayan asal Meranti, kepada riaupotenza.com, Rabu (31/1) siang.

“Kita dapat ikan tentu harus diawetkan dengan es. Terkadang masih menunggu bermingu-minggu untuk bisa mendarat kembali,” ujarnya.

Menurut Jasman, hingga saat ini banyak nelayan masih membeli es batangan dari Tanjungbalai Karimun, Kepri. Selain es, di sana memiliki fasilitas pengisian bahan bakar dan tempat pelelangan ikan.

“Iya kita ambil es di Tanjung Balai. Begitu juga dengan bahan bakar. Yang jelas di sana lengkap, semua ada. Teelebih paling penting itu TPI, di Meranti mana ada itu semua,” kata Jasman.

Itu alasan kenapa nelayan asal Meranti lebih memilih melelang ikan tangkapannya di Kabupaten Tanjungbalai Karimun, Provinsi Kepri daripada membawa ke Meranti.

“Makanya kami lelang hasil tangkapan ke Tanjungbalai Karimun. Karena kalau kita lelang di Meranti, ya rugilah, tidak sebanding dengan biaya akomodasinya,” ungkapnya.

Karena ikan tangkapan nelayan dijual di Tanjungbalai, akibatnya Meranti jadi mengalami kelangkaan ikan segar.

Menyikapi keberadaan TPI milik Pemprov Riau di Desa Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang, serta pabrik es bantuan dari KKP yang sudah dibangun di Desa Selat Akar, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Meranti, Jasman sangat mengeluhkan mengeluhkan kondisinya.

“Kondisinya parah. Terlebih kondisi TPI yang ada di Tanjung Samak itu, sekarang jadi sarang hantu. Ya samalah kondisi pabrik es yang ada di Selat Akar,” kata Jasman.

Dampak dari hal itu tidaklah aneh jika di “jantung” Kabupaten Kepulauan Meranti, Selatpanjang sangat sulit mendapatkan ikan segar.

Pasar-pasar di Meranti dipenuhi ikan kotak asal Tanjungbalai Karimun.

Seperti halnya dikeluhkan salah seorang ibu rumah tangga asal Selatpanjang, Suci Fazhariana. Menurutnya di pasar, seperti di Selatpanjang sangat sulit mendapatkan ikan segar kualitas yang baik dengan harga yang terjangkau. 

“Susah, yang ada itu kebanyakan ikan kotak atau ikan es yang didatangkan dari Tanjungbalai Karimun. Kalau pun ada ikan segar, itu kwalitas dan jenisnya kurang bagus, terlebih harganya mahal. Masak perkilonya diatas Rp30 ribu,” ujarnya. 

“Kondisi itu terpantau sangat merata, mulai dari pasar modern Tanjung Harapan, hingga ke Pasar Sore Alahair,” kata Suci.

Terhadap fenomena langkanya ikan segar dengan harga yang terjangkau di Meranti ini, dibenarkan oleh Kadis Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti Syamsudin. 

“Itu kan sudah berlangsung lama. Makanya saat ini kita sedang cari formulanya. Minimal segala kebutuhan nelayan di Meranti bisa terpenuhi,” ujarnya.

Dikatakan Syamsudin, pengajuan perbaikan fasilitas bagi nelayan sedang diupayakan Pemda Kepulajan Meranti, melalui Dinas Perikanan

Syamsudin mengaku telah melihat kondisi TPI dan pabrik es. “Kita telah lihat kondisinya, memang TPI di Tanjung Samak itu aset Provinsi Riau. Kita akan berusaha 2018 ini hibahnya agar bisa beralih memjadi aset kita. Kalau sudah menjadi aset kita, tentu gampang untuk melakukan perbaikan, agar bisa segera digunakan,” ujar Syamsudin, Rabu (31/1) siang. 

Selain keberadaan TPI, pihaknya juga sedang mencari jalan keluar agar pabrik es di Selat Akar itu bisa beroperasi kembali.(wir)