Permohonan Normalisasi Tak Digubris

Warga Tuding Tangggul PT RAPP Penyebab  Banjir


riaupotenza.com
Tanggul yang dibuat PT RAPP Sektor Ukui diduga penyebab parahnya banjir di Desa Lubuk Kembang Bunga Ukui karena area limpahan air ditutup 

UKUI-Sertidaknya sudah tiga kali masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga Kecamatan Ukui melayangkan surat permohonan normalisasi Sungai Nilo ke PT RAPP. Ironisnya, kendati berulang sejak 2014, 2015 dan 2017 surat masyarakat melalui Pemerintahan Desa setempat tidak digubris. Normalisasi Sungai Nilo ini terkait langganan banjir yang merendam desa yang diduga penyebabnya adalah pembuatan tanggul perusahaan ribuan kilometer di hulu sungai.

    ‘’Mengingat rentannya bencana banjir merendam desa kami, maka dilakukan bersama masyarakat yang berujung pada permohonan normalisasi Sungai Nilo kepada PT RAPP sektor Ukui. Tapi sayang, surat pertama tahun 2014, lalu menyusul surat kedua tahun 2015 dan terakhir 21 Nopember 2017 lalu tidak direspon perusahaan,’’kata Kepala Desa Lubuk Kembang Bunga Ir H Rusi Chairus Slamet, Ahad (7/1). 

      Kades pun membeberkan surat permohonan pembersihan Sungai Nilo yakni surat permohonan Pemdes Nomor:100 Pemdes/XI/2104/022 tertanggal 27 Nopember 2014, tentang permohonan normalisasi/pembersihan Sungai Nilo dan surat Nomor 34/Pemdes/LKB/VIII/2015 tertanggal 24 Agustus 2015, tentang permohonan ulang lanjutan permintaan Normalisasi/Pembersihan Sungai Nilo.

    Dikatakan Rusi, menunjuk hal tersebut, sesuai dengan kesepakatan bersama perwakilan pihak PT RAPP Sektor Ukui dengan masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga, tentang rencana kesediaan PT RAPP Sektor Ukui untuk menyediakan alat berat dalam pembersihan Sungai Nilo dari kayu-kayu dan sampah lainnya. ‘’Jika Dalam hal ini bila tidak segera dilaksanakan, maka pada saat musim penghujan yang sedikit saja, berakibat meluapnya aliran Sungai Nilo hingga aktivitas masyarakat di beberapa RT terutama dua RT lumpuh total,’’ungkapnya.

    Dan warga lanjut Kades Lubuk Kembang Bunga menambahkan, banjir yang terjjadi juga dampak dari jalur sungai saat ini sudah mendangkal. ‘’Dan diduga juga penyebabnya adalah tanggul yang dibuat PT RAPP yang cukup tinggi kurang lebih 5 meter dan panjangnya ribuan meter di area kerja PT RAPP di hilir Sungai Nilo,’’terangnya.

     Sebelum dibangun tanggul sambung Kades, area tersebut bisa menjadi limpahan luapan air sungai saat banjir tiba. Tapi karena sudah berubah fungsi maka, dampak banjir semakin parah.   ‘’Saat ini aliran sungai selalu tertahan, dan surutnya air banjir cukup lama, serta terjadi terus menerus. Akibatnya pada dua lokasi RT selalu rawan banjir, sehingga kerugian psikis maupun fisik dan lainnya di lokasi rawan banjir tersebut sangat merugikan khususnya masyarakat tempatan dan para petani sawit lainnya yang tidak bisa memanen hasil kebunnya, jadwal panen kacau, dan lain sebagainya,’’ujar Kades Rusi sambil menambahkan umumnya dampaknya dirasakan oleh masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga keselurahannya.

      Rusi menyebutkan, tanggul sudah dibangun sejak tahun 2012 lalu, tapi sedikit dan pendek. Lalu, tahun 2015 baru diperpanjang dan ditinggi mencapai 5 meter dengan panjang ribuan meter.

     Terpisah Camat Ukui Amri Juharza,S.Kom yang dikonfirmasi membenarkan adanya surat masyarakat ke pihak perusahaan sampai tiga yang isinya meminta bantuan normalisasi sungai. ‘’Surat terakhir permohonan normalisasi itu tanggal 21 Nopember lalu saya ikut membubuhkan tandatangan. Tapi memang sampai kini belum ada realiasi. Kita sangat prihatin sekali jika banjir datang, masyarakat tidak bisa beraktivitas. Dan itu dilaporkan masyarakat kondisi banjir makin parah setelah perusahaan membangun tanggul tinggi di mana area tersebut sebelumnya tempat limpahan air jika banjir. Karena areal sudah ditanggul, jadi limpahan air jadinya menghantam kampung,’’jelas Camat.

    Selain itu Amri Juharza membenarkan kalau permasalahan tersebut sudah disampaikannya ke Bupati Pelalawan juga pihak Dinas Lingkungan Hidup. ‘’Ya pak Bupati masalah itu segera dituntaskan mengingat kesulitan masyarakat jika musim hujan yang dipastikan dikepung banjir,’’paparnya.

    Terbaru sambung mantan Camat Bandar Petalangan ini, dua hari lali pihak perusahaan sudah ke kantor Camat menemui dirinya. ‘’Semalam sore orang RAPP sudah datang ke kantor Camat Ukui. Setelah diadakan perundingan maka saya minta untuk bersama-sama turun ke lokasi ke sungai yang akan di normalisasi,’’ujarnya.

    Hanya saja lanjut Amri Juharza, pihak perusahaan mengajak survei melalui udara. ‘’Mereka mengajak saya survey pakai jalan udara dengan heli. Untuk saat ini saya tolak karena kalau survey saya pengen seluruh stakholder bisa ikut bersama-sama. Kalau pakai heli terbatas,  sehingga diambil kesepakatan survei melalui jalan air naik pompong sampai mentok pada aliran yang tidak bisa dilalui pompong. Setelah itu baru pakai jalan udara untuk lokasi yang tidak bisa dijangkau pompon,’’beber Camat Ukui sambil menambahkan akan mengikut sertakan pihak Polsek, Danramil, Satpol PP, kepala desa, tokoh masyarakat juga pers serta pihak DLH Pelalawan.

    ‘’Hanya saja saya belum pastikan tanggal ke lokasi. Namun yang jelas diusahakan pekan depan (pekan ini,red), karena saya mau konfirmasi kesediaan waktu Kapolsek,  Danramil dan DLH,’’kata Camat sambil mengatakan jarak ke lokasi dari Kantor Camat satu setengah jam, menyusuri sungai hampir 3 jam dan diperkirakan akan memakan satu hari full ke lokasi.

   Pihak perusahaan sampai saat ini berhasil dikonfirmasi, meski sudah diusahakan melalui WA, namun tidak ada balasan.amr