Ditahan, Kadis PU Tetap Bungkam


riaupotenza.com
Kadis PU Kepulauan Meranti, Ariadi ST MT tetap bungkam walaupun telah resmi ditahan.

SELATPANJANG (RPZ) - Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kepulauan Meranti, Ariadi ST MT tetap memilih bungkam setelah resmi ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Meranti, Rabu (3/1) petang.

Pantauan di lapangan, setelah mendatangi Kejari pada pulul 10.00 WIB, mantan Kadis Perhubungan Kepulauan Meranti ini langsung menjalani pemeriksaan lanjutan hingga waktu istirahat. Sore harinya, barulah ia resmi ditahan.

Tersangka digiring ke mobil sekitar pukul 17.30 WIB. Sebelum dijebloskan ke penjara, dia dibawa ke Klini Nugroho di Jalan Kesehatan. Di tempat itu dia bahkan sempat antre dengan pasien lainnya. Usai menjalani cek kesehatan, barulah ia kembali dibawa ke Cabrutan Bengkalis di Selatpanjang Jalan Tanjungmayat dan sampai sekitar pukul 18.06 WIB. Setelah bersalaman dengan seluruh awak media, dia pun langsung masuk Cabrutan tanpa mau berkomentar banyak kepada wartawan yang terus melontarkan pertanyaan. “Saya penat dalam masalah ini. Tak perlulah saya berkomentar,” ucap Ariyadi saat itu.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Meranti Roy Modino SH, didampingi Jaksa Penyidik Robby Prastya SH, mengatakan bahwa masalah tersebut termasuk salah satu kasus dugaan tindak korupsi paling sulit yang pernah mereka tangani. Dari hasil pemeriksaan saja pihak, kejaksaan bahkan sudah dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa terdapat kesalahan dari awal terhadap proses pengerjaan proyek.

“Dari awal saja sudah salah. Kami hanya ingin mencari kebenaran materil, kalau dihitung salah ya salah semua. Yang penting, siapa dalangnya dan siapa pula yang paling bertanggung jawab, itu saja. Tak mungkin masalah terjadi jika tidak ada yang buka krannya. Secara sadar atau tidak, mereka sudah melakukan kesalahan,” ucap Roy.

Ketika disinggung mengenai keterlambatan penahanan terhadap tersangka Ariyadi, dia juga mengaku bahwa sesungguhnya tersangka termasuk yang koperatif dan selalu datang atau memberikan konfirmasi ketika berhalangan saat dipanggil. “Ada formalitas hukum yang harus kita penuhi, makanya dia terlambat ditahan,” jawab Roy lagi.

Formalitas hukum yang dimaksud berkaitan dengan hak tersangka, seperti harus didampingi pengacara. Dan, hal itu tidak menghambat proses, cuma menunda saja. Karenanya, penahanan agak sedikit terlambat dari waktu yang telah ditetapkan.

Roy juga punya target untuk merampungkan semua berkas dalam waktu dua minggu. Sebelum masuk persidangan, pihaknya juga akan menambah masa penahanan selama 40 hari setelah waktu penahanan 20 hari yang ditetentukan terhadap tiga tersangka lainnya habis.

“Masalah tercapai atau tidaknya target tersebut kita lihat nantilah. Kasus ini sangat sulit mengungkapnya, karena semuanya dalam tekanan. Makanya perlu banyak yang harus diperiksa guna mendapatkan bukti kuat. Kinerja kita ini berkesinambungan. Lihat saja nanti akan ada lagi tersangka baru, termasuk dalam kasus lainnya,” beber Roy, meyakinkan Pekanbaru MX.

Meski tergolong kasus sulit, Kejari Meranti tetap berupaya keras mencari bukti-bukti pendukung lainnya. Setelah memeriksa konsultas pengawas, Kejari Meranti juga memanggil dan memeriksa tiga pegawai Bank Riau-Kepri Cabang Selatpanjang, Kamis (4/2) siang. Selain Bagian Teller, keterangan juga diambil dari Bidang Kredit dan pegawai penerima jaminan kegiatan.

“Sekarang kita tengah menyelidikan aliran dananya. Kebanyakan kontraktor di Meranti ini tidak punya uang dan selalu mengajukan pinjaman di Bank Riau-Kepri,” beber Roy.

Sejak kasus dugaan korupsi pembangunan proyek pembangunan dermaga senilai Rp32 miliar di Sungaitohor Barat Kecamatan Tebingtinggi Timur ini ditingkatkan, pihak kejaksaan terus bekerja ekstra. Sejumlah pihak turut dipanggil. Pihak kejaksaan bahkan telah menetapkan empat tersangka.mxr