Pemda Akui Tidak Bisa Berbuat Banyak

Ratusan Lapak dan Ruko di Meranti Terendam Banjir Rob


riaupotenza.com
Pasar Sandang Pangan Kabupaten Kepulauan Meranti tergenang oleh Banjir Rob

RATUSAN Lapak dan ruko di Pasar Sandang Pangan Kabupaten Kepulauan Meranti, kembali terendam banjir Rob. Bencana langganan setiap akhir tahun tersebut, menyebabkan aktivitas perekenomian warga setempat mengalami penurunan secara drastis.

   Panatauan wartawan, banjir Rob itu terjadi sejak akhir pekan (4/12) lalu menggenangi lapak dan ruko pedangang, dengan ketinggian air bervariasi, mulai dari 30 cm hingga, mencapai 40 cm meter. Berbeda lagi pada poros jalan masuk Pasar sungai juling yang lokasinya tidak jauh dari pasar sandang pangan, yang ketinggian air mencapai 1 meter. 
   
Meskipun demikian, aktivitas pedagang, mulai dari pedagang pakaian, sayur, ikan dan lain lain masih tetap berjalan sebagaimana sebelumnya. Namun kondisi pasar terlihat lengang dari pembeli.
   
‘’Banjir pasang tinggi seperti ini langganan tiap tahun terjadi. Kalau sudah begini ya lengang tidak ada pembeli,’’ kata salah seorang pedangang pakaian, Lukman Lim, warga Jalan Utama Kelurahan Selatpanjang Timur Meranti, Jumat, (8/12) siang.

Menurutnya, betepatan pada hari biasa pendapatannya bisa mencapai Rp500 ribu sampai Rp1 Juta perhari, namun dalam minggu ini pendapatannya turun drastis. 

   Pasang dan surutnya banjir Rob itu bisa sampai 6 jam, batas akhir surutnya pasang laut diperkirakan bertepatan pukul 14.00 WIB.  ‘’Air laut naik sekira pukul sembilan, dan surut sekira pukul empat belas. Itukan sore, kalau sore mana ada orang yang mau beli. Biasanya orang belanja pagi,’’ungkapnya. 

   Terpisah, Man (24) warga jalan Siak , berharap pada pemerintah daerah segera melakukan perbaikan drainase. Menurutnya, mesti ada normalisasi sedimentasi yang menumpuk di sejumlah drainase besar di pusat kota Kabupaten Kepukauan Meranti. 

Man khawatir, banjir tahunan ini berdampak serius bagi masyarakat kota selatpanjang. Seperti tahun lalu yang menimbulkan korban jiwa.  ‘’Janganlah sampai ada korban seperti tahun kemarin. Dimana terdapat balita tercebur ke parit pasca banjit Rob, dan akhirnya balita tersebut meninggal dunia,’’ ungkapnya. 

   Menindaklanjuti hal itu, Kasi Pengairan DPU Kabupaten Kepulauan Meranti, Samsul, kepada Pekanbaru Pos di hari yang sama mengungkapkan, lambat surutnya pasang Rob tersebut disebabkan oleh tingginya sidimentasi dua anak sungai di Selatpanjang. 

   Menyikapi itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, karena pengeloaan dan pengawasan sungai dan laut sepenuhnya wewenang pemerintah provinsi. 

   ‘’Peningkatan sidimentasi di dua anak sungai itu bisa mencapai 6 sampai 10 centi meter per bulannya. Namun wewenang sepenuhnya sudah beralih ke provinsi, sehingga kita tidak bisa berbuat banyak guna mengurai masalah itu,’’ katanya.wir