Pesona Alam Mangrove Mengkapan

Berwisata Sambil Belajar


riaupotenza.com

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Siak tengah giat-giatnya mempromosikan berbagai objek wisata yang menarik wisatawan. Tak hanya bangunan-bangunan bersejarah, taman-taman kota, namun kini wisata alam juga semakin dilirik untuk dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Negeri Istana tersebut.

Selama ini, masyarakat luas hanya mengenal Istana Siak dan beberapa bangunan bersejarah lainnya sebagai objek wisata yang terkenal di Kabupaten Siak Sri Indrapura. Namun, kini semua telah berubah, tak hanya unggul di wisata sejarah dan budaya, Kabupaten Siak pun mulai menata alam mereka menjadi salah satu objek wisata unggulan. Salah satunya, Ekowisata Mangrove Mengkapan yang terletak di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit.

Kabupaten Siak yang terkenal kaya akan hutan mangrove berupaya mengembangkan beberapa area untuk menjadi lokasi wisata. Terbaru, di atas lahan seluas 50 

Hektar, Pemkab Siak menjadikan Ekowisata Mangrove Mengkapan menjadi destinasi wisata alam unggulan.

Ekowisata Mangrove Mengkapan biasanya selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah, terutama di akhir pekan dan libur panjang seperti saat ini. Kawasan Hutan Mangrove yang dikelola oleh Kelompok Mangrove Lestari dan PT EMP Malacca Strait S A ini memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam.

 Menuju area wisata tersebut, ada dua jalur alternatif yang dapat ditempuh. Jalur pertama bisa melewati jalan baru Siak jika wisatawan ingin berjalan-jalan di Kabupaten Siak terlebih dahulu. 

 Setelah melewati jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, wisatawan/pengunjung bisa langsung menuju Kecamatan Bunga Raya. Di sepanjang perjalanan menuju Mangrove Mengkapan, wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan area persawahan yang menyejukkan mata.

 Setelah itu, wisatawan akan melintasi salah satu jembatan panjang di Teluk Mesjid, Kecamatan Sungai Apit,  yaitu Jembatan Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah. Kemudian pada jalan yang mengarah ke pelabuhan Buton, wisatawan akan menemukan papan petunjuk yang bertuliskan Jembatan Hitam Ekowisata Mangrove di simpang empat pelabuhan Buton.

Sedangkan jalur kedua, bisa menempuh jalur alternatif. Wisatawan tidak perlu berbelok-belok dan jaraknya pun tidak sejauh jalur pertama. Jalanya hanya lurus saja melewati Jalan Siak lama hingga ke Simpang Empat Pelabuhan Buton.

Dari simpang empat tersebut, Desa Mengkapan tersebut terletak di sebelah kiri dengan plang yang terlihat sangat jelas. Sebelum sampai ke lokasi wisata, wisatawan akan melewati pemukiman warga Kampung Mengkapan yang mayoritasnya merupakan suku Melayu dan Jawa.
Kawasan Ekowisata Mangrove ini berada di belakang rumah warga. Untuk mengunjungi kawasan ini tidak dipungut biaya sama sekali, cukup dengan membayar biaya parkir saja.

Kawasan hutan ini memang sudah ada sejak tahun 2004 yang lalu. Namun baru mulai terekspos dan dikenal luas pada tahun 2013. Berkat kegigihan masyarakat dan beberapa pihak yang membantu, Kawasan Ekowisata Mangrove sekarang menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup berpotensi.

Salah satu spot menarik di sini terdapat jembatan kayu berwarna hitam yang lebih populer disebut Jembatan Hitam. Di Jembatan Hitam ini wisatawan dapat menikmati keindahan kawasan yang memiliki pantai dan hamparan laut ini sekaligus untuk berfoto mengabadikan momen.
Kawasan Ekowisata Mangrove ini juga menawarkan berbagai wisata edukasi tentang mangrove, mulai dari jenisnya, pembibitan, penanaman, dan sebagainya bagi para pengunjung.

Yang lebih menariknya lagi, di kawasan ini juga disediakan suatu area yang dinamakan “Gembok Cinta Mangrove”. Biasanya para pengunjung yang datang ke sini memasang gembok dengan tujuan agar ikut serta mencintai mangrove dan melestarikannya.

Jadi tidak perlu jauh-jauh datang ke Jembatan Pont des Arts, Paris untuk memasang gembok cinta anda. Dengan adanya gembok cinta ini dapat menambah penghasilan masyarakat sekitar Mangrove

Berawal dari Penyelamatan Pohon

Kawasan ini mulai didirikan pada awal tahun 2015 oleh Kelompok Pecinta Alam Kampung Mekar Jaya. Pada awalnya mereka hanya ingin menyelamatkan pohon-pohon bakau yang dirusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menebang bakau secara liar.

Namun, karena melihat bahwa akar-akar kayu bakau tersebut sangat unik dan menarik serta memiliki potensi untuk dikembangkan, maka muncullah ide untuk mengelola kawasan tersebut menjadi tempat wisata yang dibuka untuk umum.

Di dalam kawasan ini disediakan berbagai fasilitas yang dapat memanjakan pengunjung yang ingin melepas penat dari hiruk pikuknya suasana kerja. Selain suasana teduhnya pohon-pohon bakau, di sana juga terdapat rumah-rumah pohon untuk para pengunjung beristirahat melepas penat.

Bagi para pengunjung yang hobi memancing, dapat duduk bersantai di jembatan yang sudah disediakan di tepi sungai yang tentunya masih alami. Sehingga masih banyak ikan dan udang galah dan hasil pancingan tersebut dapat dibawa pulang secara gratis.
Selain untuk berwisata menikmati keindahan alam, di kawasan ini juga dapat dijadikan sebagai wisata edukasi. Dimana anak-anak, pelajar atau mahasiswa yang cinta lingkungan dapat belajar tentang pembibitan dan penanaman mangrove yang dikelola oleh Kelompok Rumah Alam Mangrove.

Kelompok Rumah Alam Mangrove telah melakukan berbagai upaya dalam pemanfaatan Ekositem Mangrove dengan pendekatan edukasi, wisata serta ekonomi kreatif berbasiskan masyarakat

.Selain mengenalkan hutan mangrove, juga telah disiapkan berbagai hasil olahan dari pohon mangrove dan hasil alam lainnya seperti sirup, dodol, selai dari buah-buahan pohon mangrove jenis berembang dan anyaman tikar dan atap rumah dari daun nipah.

Jadi untuk wisatawan yang datang dari jauh-jauh ke kawasan ini bisa membawa oleh-oleh dengan harga yang sangat terjangkau. Kegiatan penyelamatan ekosistem mangrove ini tentunya banyak sekali pengaruh serta manfaat untuk ekonomi dan kelestarian ekosistem bagi masyarakat yang berada di lingkungan mangrove.(yan/fen)