Oknum Anggota Polri Diduga Dikriminalisasi


riaupotenza.com
inset Zulfikri SH

MERANTI -- Bripka Richi Pernando Pasaribu terus mencari keadilan. Melalui ibunya, minta kasus yang menimpa anaknya yang berdinas di Polres Meranti ini dilepaskan dari kasus yang menjeratnya.

''Kasus yang menimpa anak saya ini diduga rekayasa. Sebab, tak ada bukti yang menyebutkan anaknya menguasai sabu-sabu. Apalagi, dari tes urine hasilnya negatif,'' kata ibu Richi, Lina Sianipar pada wartawan, kemarin.

Sementara kuasa hukum Richi, Zulfikri SH menjelaskan, terkait kasus yang menimpa kliennya berawal saat Richi memperbaiki CPU komputer miliknya  untuk diservice ke Toko My Computer, Jalan Banglas, Kelurahan Selatpanjang Timur, pada 10 Agustus 2017. Ia ditemani dua rekannya, Brigadir Polisi Dua Tombol Josua Tampubolon dan Brigadir Polisi Dua Johanes P Sipayung yang juga merupakan personel Polres Kepulauan Meranti.

Waktu itu, CPU diterima Andra Yanto alias Abun. Selanjutnya, Richi dan rekannya melakukan patroli ke kawasan sekitar Desa Benglas dan Desa Rintis.

Sementara, Abun yang akan menservice komputer mendapati satu bungkusan kecil warna bening berbentuk kristal mirip sabu dalam komputer tersebut.
    
Kemudian penemuan ini dilaporkan kepada kakak Abun, Andri Yanto alias Asen. Setelahnya, keduanya pergi menuju ke rumah Richi untuk mengantarkan CPU, tapi yang bersangkutan tidak ada di rumah karena tengah patroli.
    
Abun dan Asen kemudian melaporkan penemuan kepada Wisnu, yang menjabat sebagai kepala Sub Bagian Logistik Polres Kepulauan Meranti dan CPU, selanjutnya diserahkan kepada Wisnu di ruang Sarana dan Prasarana Polres Kepulauan Meranti.
     
Setelah Abun dan Asen pergi, Wisnu beberapa kali menghubungi nomor ponsel Richi, untuk diminta segera datang ke Polres. Karena menyebut ada hal penting hendak dibicarakan, Richi menyanggupi permintaan Wisnu, dan hadir bersama dua rekannya pada pertemuan Asen dan Abun.
     
Richi yang ditanya Wisnu mengenai kepemilikan CPU, mengakui jika benda tersebut miliknya. Wisnu juga menjelaskan tentang penemuan barang yang disinyalir ada sabu di CPU tersebut. Usai pembicaraan, lalu masing-masing meninggalkan ruangan dan berpisah.
     
Tapi, tanpa sepengetahuan Richi, penemuan itu dilaporkan oleh Wisnu ke Satuan Reserse Kriminal Polres Meranti pada tanggal 13 September 2017.
     
“Sebulan lebih lamanya,  klien kami tidak pernah melihat atau diperlihatkan narkotika jenis sabu tersebut seperti yang dikatakan pelapor. Bahkan parahnya lagi, saat ditemukan, sabu juga tak berada dalam penguasaan Richi. Ini diduga ada kriminalisasi terhadap kliennya,” jelas Zulfikri.

Di samping itu, sejak pertama kali ditemukan, penyidik yang menangani kasus juga tak melakukan uji sidik jari terhadap barang bukti sabu tersebut Anehnya, laporan polisi oleh Wisnu, juga baru dibuat pada tanggal 13 September 2017, atau 34 hari setelah barang haram diklaim ditemukan.

“Artinya sabu disimpan oleh Wisnu hingga akhirnya diserahkan pada 18 September 2017. Padahal sesuai aturan, maksimal 3×24 jam barang bukti itu harusnya sudah diserahkan ke petugas yang berwenang,” jelasnya.

Meski penegak hukum, status Wisnu yang bertugas di bagian logistik diduga tak sesuai apabila menyimpan barang bukti sabu, selain penyidik yang menangani perkara. Tak hanya itu, tragisnya lagi penanganan kasus yang bukan di Satuan Reserse Narkoba, melainkan ditangani di Satuan Reserse Kriminal Polres Kepulauan Meranti, tentunya hal ini juga dianggap tak tepat.

Meskipun demikian, Richi juga berinisiatif melakukan tes urine di Rumah Sakit (RS) Santa Maria, Pekanbaru, pada tanggal 21 Agustus 2017. Hasilnya Ia negatif menggunakan narkoba.

“Karena itu, kami juga meminta Propam memeriksa penyidik yang menangani kasus ini. Sehingga keadilan juga bisa diperoleh klien kami. Karena hingga kini Richi masih loyal terhadap Polri. Kami juga berharap Abun dimintai keterangannya,” kata Zulfikri yang mengaku kalau kasus ini sudah dilaporkan ke Propam Mabes Polri.

Sementara Kapolres Meranti AKBP LA Ode Proyek SH yang dihubungi wartawan terkait adanya laporan ke Propam Mabel Polri ini mengaku, tak masalah dengan laporan tersebut. ''Itu hak Richi. Yang jelas kasus ini diproses sesuai hukum berlaku,'' ungkapnya.***