Dugaan Kasus Trafficking 

Siswi Dijual Rp700 Ribu


riaupotenza.com
ilustrasi/int

Wanita berinisial NS mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polresta Pekanbaru, Kamis (9/11). Ibu rumah tangga berusia 38 tahun ini melaporkan dugaan trafficking yang menimpa putrinya.

Kasubbag Humas Polresta Pekanbaru Iptu Polius Hendriawan saat dikonfirmasi wartawan , Jumat (10/11) membenarkan adanya laporan tersebut. Kasusnya kini sedang dalam penyelidikan.

Dugaan trafficking ini berawal ketika NAS (16) meninggalkan rumah pada, Rabu (1/11) pukul 20.00 WIB.  Hampir sepekan, cewek yang berstatus siswi itu tak pulang-pulang. Sebagai orangtua, NS mulai risau. Pencarian pun dilakukan ke beberapa tempat.

Rabu (8/11) pukul 14.00 WIB, NS dapat informasi. Dikatakan putrinya sedang di Hotel Sabrina Jalan Imam Munandar.  Bergegas NS menuju tempat yang dimaksud. Benar saja, korban berada di kamar 305. Pengakuan putrinya, dia dibayar Rp700 oleh seseorang untuk melayani hubungan badan.

Pengakuan itu membuat NS kaget. Tak terima putrinya jadi korban perdagangan orang, NS pun lapor polisi. “Dugaan sementara trafficking. Masih diselidiki,” pungkasnya. 

Ada 4 Pria  di Kamar
Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Kompol Bimo Ariyanto SIK SH mengaku masih mendalami dugaan trafficking tersebut. “Masih didalami, laporan baru diterima kemarin (Kamis),” sebutnya.

Dia mengaku belum mengetahui motifnya, apakah prostitusi online, dijual mucikari atau korban sendiri yang kenal dengan pria hidung belang di hotel tersebut.

Informasi awal, lanjut Bimo, sebelumnya korban memang sering pergi dari rumah. “Kadang dua hari di rumah terus pergi. Terakhir ditemukan orangtuanya di kamar 305 Hotel Sabrina Jalan Imam Munandar,” ucapnya.

Pengakuan korban ia dijual oleh pria tak dikenal untuk melayani pria hidung belang. “Dia ngakunya gak kenal dan ada empat pria saat itu. Masih diselidiki, siapa pria yang dimaksud,” terangnya.

Pihaknya juga sedang meminta hasil visum korban, apakah benar telah terjadi persetubuhan tersebut. “Bila terbukti, maka pelaku bisa dijerat Undang-undang Perlindungan Anak,” pungkas Bimo. ***