Tiga Perambah Lahan GKPN Digelandang ke Polres Kampar


riaupotenza.com
Para pemilik lahan GKPN di depan Polres Kampar di Bangkinang.

PEKANBARU - Puluhan pemilik tanah kaplingan GKPN (Gabungan Koperasi Pegawai Negeri) Riau di Desa Tambang Kampar, Ahad (5/11), menggelandang tiga oknum penggarap lahan dari perbatasan Pekanbaru-Kampar ke Polres Kampar di Bangkinang. 

Ketiga oknum ini, Jon, JS dan Sur, digelandang ketika tengah menjalankan alat berat. Sehari sebelumnya (4/11) para penggarap ini sempat bersetegang dengan beberapa orang pemilik tanah GKPN, yang datang ke lokasi untuk memprotes. 

"Karena jumlah kami sedikit kami kemarin itu menyingkir dulu. Tetapi, ingatlah, sampai kapan pun kami tidak pernah diam," kata Lubis, koordinator lapangan pemilik lahan GKPN yang berisi ribuan hektar itu.

Penggarapan GKPN III ini digerakkan Syf, warga Tarai Bangun Kampar, yang diduga dimotori mantan pejabat Kampar, yang menyediakan sejumlah alat berat berupa ekskavator, vibratory ruller serta mobil operasi lainnya. 

Di dua lokasi yang berbeda ini beberapa lahan yang semula  ditanami sudah di bolduzer rata. Malah di lokasi yang digarap Syf sudah dikeruk parit-parit besar. Selain tanaman yang sudah disapu habis, tonggak-tonggak batu sempadan pun digilas pakai ekskavator.

MASUKKAN LAPORAN

Para pemilik tanah GKPN ini sempat bertahan di Polres Kampar dari siang sampai malam hari untuk melaporkan kejadian ini dengan membawa langsung tiga oknum penggarap lahan. Semula Polres Kampar sempat enggan menerima laporan anggota GKPN, beralasan fotocopy surat tanah tidak dilegalisir. Tetapi setelah para pemilik kaplingan menunjukkan surat asli barulah diproses.

"Alhamdulillah. Surat laporan ke Polres Kampar sudah kita terima," Y  Tarmizi, seorang pemilik kaplingan, seraya memperlihatkan Surat Tanda Bukti Laporan bernomor: LP/277/X/2017 dari Polres Kampar.

Pekan lalu Polsek Tambang Kampar juga sempat enggan untuk menerima laporan walaupun para pemilik lahan GKPN sudah menggelandang seorang oknum operator alat berat ke Polsek Tambang. Mereka malah menawarkan berunding dulu dengan Ags yang mengaku menggarap lahan untuk membangun perumahan. Tetapi ketika ditanya, apa nama perusahaannya yang membangun perumahan di lahan ini, Ags malah berkelit-kelit menjawabnya.

"Sekarang kita berproses di Polda Riau lagi. Semoga segera pula masuk ke pengadilan," kata Lubis seraya menyebutkan, laporan ini dimasukkan juga ke ombusment dan beberapa lembaga terkait di Riau dan di Jakarta.

Lahan GKPN dibeli dari pemangku adat Kampar sejak 1980-an. Di dalam tanah ribuan hektar ini dimiliki banyak pegawai negeri di Riau, mulai sipil aktif maupun anggota kepolisian, TNI sampai pensiunan. Memasuki masa reformasi sejumlah kalangan yang mengaku-ngaku datuk adat menyatakan mereka memiliki lahan ini. Kemudian tanah diperjual-belikan oleh oknum-oknum dan terus menimbulkan konflik. 

Syf sendiri, operator penggarap lahan sekarang ini, sudah berkali-kali berkasus dengan para pemilik lahan GKPN. Satu lagi Jac, operator lahan Ags, dulu sempat menghilang ketika kasusnya diproses di kepolisian Kampar. Sekarang setelah mereda dia muncul lagi di lahan GKPN III garapan Ags, warga Panam, Pekanbaru.(yan/rls)