Suami Menduakanku


riaupotenza.com
ILUSTRASI/INT

APA yang lebih berat  dalam hidup seorang   wanita selain memutuskan berpisah dari lelaki yang dicintainya? Ya, bagiku inilah yang terberat. Namun, walau berat aku harus memilih berpisah. Bertahan sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan.
Aku menikah di usia yang cukup matang, 29 tahun dan Arif, suamiku 32 tahun. 

Namun sejak setahun belakangan Arif mulai berubah. Perilakunya yang semula lembut dan romantis kini menjadi kasar. Entah apa yang menyebabkan dia seperti itu.  Suatu hari karena persoalan kecil, hanya karena aku pulang  kantor membawa dua teman, Arif marah. Malamnya aku sempat dimakinya. Padahal dua temanku itu perempuan, kenapa ia tak suka? Memang aku pulang sedikit terlambat seperti biasanya. 

Kupikir Arif lagi ada masalah di tempat kerjanya. Hal itu memang wajar terjadi pada setiap orang, persoalan kantor berimbas ke rumah.  
Tapi tak berapa lama setelah kejadian terlambat pulang itu, Arif kembali berlaku buruk. Kali ini ia mulai main tangan. Hanya karena masalah sepele yakni aku iseng membuka handphonenya, Arif marah. Ia meremukkan guci pajangan, hingga guci tersebut pecah berantakan.

Kejadian yang paling menyakitkan adalah saat sepulang kerja, aku menumpang mobil teman sekantor yang searah dengan rumahku karena mobilku masuk bengkel. Sudah mendekati rumah, aku turun dari mobil teman dan berjalan ke rumah yang jaraknya tidak lebih dari tiga menit. Setiba di dekat rumah, kulihat Arif sudah tiba di rumah lebih dulu.

Sudah dapat ditebak, kami kembali bertengkar. Dan seperti biasa aku tak mampu melawan kekasaran Arif. Ia kembali melontarkan makian. 
Di dalam rumah, Arif masih teriak, hingga aku  hanya bisa diam saja. 

Begitulah hubunganku dengan suamiku saat ini. Suasana romantis dan menyenangkan hanya berlangsung setahun pertama. Semula kupikir tabiat Arif itu dipicu karena kami sampai saat ini belum dikaruniakan anak. Memang beberapa kali Arif memintaku untuk rajin mengkonsumsi beberapa herbal yang ia bawakan. Namun karena aku dari dulu tak suka minum-minum herbal, usaha Arif hanya sia-sia saja. 

Aku yang sudah lama mengenal Arif sejak sebelum menikah, heran kenapa terjadi perubahan drastis pada sikap dan sifat Arif sejak kami menikah. 
Pertanyaan tersebut terjawab ketika suatu malam Arif mengatakan sesuatu yang membuatku seperti tersambar petir. Ia minta izin untuk menikah dengan perempuan lain.

“Kenapa? kenapa kamu sampai kepikiran mau menikah lagi? Aku kurang cukup?” sergahku. Arif menatapku dengan tatapan aneh.
“Bukan karena itu, aku ingin punya anak. Itu saja,” jawabnya pendek.

Jawabannya itu membuatku risau sepanjang hari. Aku baru meyadari, itulah penyebab semua perilaku kasar suamiku. Ia begitu ingin secepatnya punya anak. Demi obesesinya ia rela menduakanku. 
Dari Aini, sepupu Arif aku mendapat penjelasan. Dikatakannya, suamiku terobsesi memiliki anak karena semua saudara-saudaranya sudah memiliki momongan. Dia saja yang belum. 
“Apakah yang harus kulakukan?” tanyaku.

 “Entahlah, nampaknya ia memang terobsesi soal anak. Kecuali kamu sanggup bertahan hidup bersamanya ya nggak masalah. Tapi kukira ini akan sulit bagimu,” kata Aini berpendapat.
Tapi kejadian tersebut menjadi titik balik hidupku selanjutnya. Kupersiapkan diriku sebaik mungkin. Menerima diri dimadu sungguh tak sanggup kubayangkan. Tapi apa yang harus kulakukan? ****