Bupati Syamsuar Berikan Apresiasi Luar Biasa

Perawat di Siak Temukan Alat Penyaring Air Gambut


riaupotenza.com
Syamsuar saat melihat langsung proses inovasi air gambut menjadi jernih.(kanan) Desy Yarsina

SIAK - Karya inovatif hasil temuan seorang perawat asal Siak, Provinsi Riau mendapat apresiasi luar biasa dari Bupati Siak Syamsuar. 

Sang mampu menyulap air gambut berwarna merah hingga menjadi jernih dan layak diminum. Biaya untuk menciptakan alat ini pun tergolong murah, cuma Rp200 ribu.

Adalah Ns, Desy Yarsina, S.Kes, perawat di Puskesmas Sungaiapit, yang membuat inovasi tersebut, dan diberi nama Water Peat Purification Siak (WPPS).

Inovasi ini, kata istri Dolbakri itu, lahir dilatarbelakangi kemarau di awal tahun 2016 sehingga masyarakat kesulitan air bersih. Seiring dengan hal itu, penyakit diare pun mewabah karena masyarakat minum air gambut secara langsung tanpa dimasak. Alasan kalau dimasak, rasanya tak enak.

Padahal, sebut Desy, kondisi air gambut sekarang sudah tercemar karena sampai ke hutan sudah jadi kebun masyarakat yang beri dolomite, pestisida, dan lain-lain. Sehingga tidak layak  untuk diminum.

Dari defenisi syarat air bersih, jelas Desy, air tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa, jadi air gambut tidak memenuhi syarat karena berwarna dan rasa payau.

"Dengan masalah di atas maka saya kombin teori kimiawi dengan teori alir rambat sebagai filtrasinya," ungkap Desy.

Jika telah terjadi pengendapan humat gambut ke bawah, ucap Alumni Unand Padang tahun 2005-2008, maka air jernih kita alirkan ke dalam pipa filtrasi yang berisi pasir dan karbon aktif (arang). Setelah itu air bersih dapat dipergunakan.

Temuan Desy ini ternyata sangat  diapresiasi Bupati Siak, Drs H Syamsuar MSi. Sehingga dia sudah meminta untuk dilakukan kajian atau mengecek kualitas air. 

"Jika berhasil kita bantu tiap rumah di kecamatan mengunakan inovasi ini, terutama kecamatan di lahan gambut," kata Syamsuar dan merasa bangga atas kreatifnya Bidan Desy.

Sesuai data yang diperoleh Syamsuar di lapangan, proses penjernihan air ini modalnya tak sampai Rp 250 ribu per harinya bisa menghasilkan untuk 2 galon air.

"Saya tau yang menemukan inovasi tersebut, dia seorang bidan di Sungaiapit, dan pernah tercatat sebagai perawat terbaik nasional tahun 2016," ucap Syamsuar.***