Gajah di Inhu Enggan Pindah, BBKSDA Riau : Sedang Berusaha Mengembalikan ke Kelompoknya


riaupotenza.com
Penampakan seekor gajah di wilayah Kecamatan Kelayang, Inhu beberapa waktu lalu, foto Humas BBKSDA Riau.

INHU (RPZ)- Seekor gajah di wilayah Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, enggan untuk pindah dan bergabung ke kelompoknya.

Sehingga gajah tersebut tergolong gajah soliter atau biasa menyendiri dan cukup sulit jika dipindahkan.

Kini gajah itu masih berada di kawasan perkebunan warga dan memakan tanaman warga, seperti sawit, pisang dan lainnya.

Namun masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan keberadaan gajah tersebut, karena tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau sedang berusaha memindahkan ke habitatnya.

"Tim terus bekerja memindahkan dan mencari kelompok gajah soliter ini," kata Humas BBKSDA Riau, Dian Indriati pada Pekanbaru Pos, Rabu (27/9) malam.

Dia mengatakan, gajah ini berjenis kelamin jantan dan usianya diperkirakan 8-10 tahun.

Sebenarnya lanjut Dian, keberadaan seekor gajah di Kelayang, Inhu, ini sudah lama. Sejak awal Agustus 2017 hingga sekarang masih belum bisa dikembalikan ke habitatnya.

Pada tanggal 2-3 Agustus, BBKSDA Riau mendapat laporan dari pihak Desa Kelayang bahwa ada seekor gajah ditemukan dan memakan tanaman warga.

Sebanyak 13 tanaman sawit dimakan dan dirusak. Sehingga tim bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas dibantu masyarakat untuk menghalau. Namun tidak berhasil.

Selanjutnya tim melakukan sosialisasi teknik menghalau dan memantau lokasi kemunculan gajah.

Seminggu setelah itu, pada tanggal 9-11 Agustus, tim kembali mendapat laporan. Kala itu laporan dari pihak Desa Kolak Pisang, Inhu bahwa ditemukan jejak gajah.

"Indikasi gajah ini terpisah dari kelompoknya gajah di kawasan Tesso Nilo," sambung Dian.

Terakhir pada tanggal 19-22 September 2017, kata dia, tim kembali mendapat laporan dari kepala desa Kelayang.

Dan saat itu dilakukan penghalauan dengan cara manual yakni bunyi-bunyian. Tim juga menyarankan kepada warga agar dibuat api dari ban bekas sekitar kebun yang terbuka dan jauh dari semak belukar.

"Dari pola pergerakan gajah tersebut bisa dilakukan pengusiran namun kembali pada posisi semula. Karena ini gajah soliter memang suka menyendiri," kata Dian.

Adapun desa-desa yang menjadi perlintasan gajah soliter ini yakni Desa Kolak Pisang, Desa Pasir Beringin dan Desa Bukit, Kecamatan Kelayang Inhu.

Sementara tim BBKSDA Riau akan terus melakukan langkah pendalaman terhadap kondisi habitat sekitar.

"Kami berharap semua pihak tidak berspekulasi tentang fenomena gajah yang mau bergerak dari Kecamatan Kelayang," kata Dian.

Sedangkan upaya pengkajian  komprehensif dengan pengumpulan data- data lapangan baik habitat sekitar dan kondisi biologis mamalia  besar ini terus dilakukan.

Dian mengaku tim penanganan konflik masih akan terus bekerja melakukan identifikasi posisi kelompok gajah Tesso Nilo tersebut.

"Kalau sudah diketahui posisi kelompok gajah Tesso Nilo, maka akan memudahkan tim untuk melakukan pemindahan dari wilayah Kelayang," tegas Dian lagi.

Oleh sebab itu, dukungan para pihak akan sangat membantu dalam penanganan satwa ini.

Tim mengucapkan terima kasih kepada  unsur pimpinan di Kecamatan Kelayang seperti koramil, polsek, camat, kepala desa, warga dan tim yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Karena mereka ini yang selalu bersama tim BBKSD Riau berupaya menghalau gajah secara terukur.(don)