Rayakan Tahun Baru Islam di Ponpes Bahrul Ulum

Kakanwil Kemenag Riau H Ahmad Supardi


riaupotenza.com
Kakanwil Kemenag Riau H Ahmad Supardi (tujuh kanan) bersama pimpinan Ponpes Bahrul Ulum dan para orang tua, usai merayakan tahun baru Islam di ponpes tersebut.

KAMPAR (RPZ)- Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, merayakan Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1439 H, bersama civitas academika.

(Ulama/Kyai/Ustadz/Ustadzah/Santri/Santriwati/Orangtua wali santri) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Islamy Pantai Raja Kabupaten Kampar, Kamis (21/9) lalu.

Ahmad Supardi Hasibuan yang didaulat sebagai penceramah untuk memberikan pencerahan kepada seluruh santri dan santriwati yang sedang menimba ilmu pengetahuan di Ponpes Bahrul Ulum, menyatakan, bahwa peristiwa hijrah dijadikan Khulafaur Rasyidin Amirul Mukminin Umar Ibnu Khattab, sebagai awal penghitungan kalender umat Islam, yang kemudian dikenal dengan Tahun Hijriyah.

Menurutnya, Hijrah ini hendaknya dijadikan sebagai sebuah konsep dalam diri, yang artinya berubah dan melakukan perubahan, dari hal-hal yang kurang baik menjadi hal-hal yang lebih baik.

Perubahan ini, menurutnya, sangat penting, karena tantangan yang dihadapi oleh satu generasi berbeda dengan generasi yang lainnya dan bahkan makin ke depan, tantangannya makin berat. Oleh karena itu, setiap orang dan atau setiap generasi harus melakukan perubahan- perubahan atas dirinya, sehingga mampu  beradaptasi dengan zamannya.

Ahmad Supardi, yang mantan Kakan Kemenag Rohul ini berpesan kepada seluruh santri dan santriwati, bahwa jika ingin mengukir sejarah pada masanya dengan prestasi yang gemilang, diperlukan beberapa langkah penting dan strategis.

Pertama, passion, artinya seseorang harus bergairah dengan pekerjaan dan profesinya, sehingga menghasilkan sesuatu yang maksimal dan bermanfaat bagi umat. Sebagai contoh, seorang santri harus rajin belajar dengan sungguh- sungguh dan dengan penuh semangat, yang itu lahir dari dalam dirinya tanpa ada rasa terpaksa, sehingga menjadi bagian dari hidup dan kehidupan seorang santri dan santriwati dimana dan saat apapun ia berada.

Kedua, integritas. Seorang santri haruslah memiliki integritas, seperti trust (terpercaya), amanah, antara ucapan hati pikiran dan tindakannya sama, dan lain sebagainya.

Ketiga, memiliki skill atau keterampilan yang dapat dihandalkan.

Keempat, memiliki sifat simpati, empati dan mau menolong serta membantu kesusahan orang lain.

Kelima, rajin belajar sepanjang hayat, sesuai hsdits Nabi Muhammad SAW, belajari dari buaian sampai liang lahat. Jika demikian, ia sangat yakin, santriwan dan santriwati akan menjadi pemimpin masa depan.(rpz)