Sebagai Saksi Dugaan Korupsi Revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru

Mantan Direktur Ipdn Rohil Diperiksa Jaksa


riaupotenza.com
Dwi Agus Sumarno berjalan menuju mobilnya seusai menjalani pemeriksaan di gedung Pidsus Kejati Riau, Selasa (13/9).

PEKANBARU (RPZ) - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau hingga saat ini masih terus melakukan penyelidikan terkait dugaan kasus korupsi revitalisasi Masjid Raya Kota Pekanbaru. Dalam penyelidikan yang dilakukan penyidik Pidana Khusus, sejumlah saksi telah dipanggil untuk dimintai keterangannya.

Salah satu saksi yang diperiksa adalah mantan direktur IPDN Rohil yang juga mantan Kadis Cipta Karya, Tata Ruang dan SDA (Ciptada) Riau, Dwi Agus Sumarno. Dwi Agus tampak keluar dari gedung Pidsus Kejati Riau, Senin (11/9) siang kemarin.

Dwi Agus Sumarno yang kini menjabat staf ahli Gubernur Riau tersebut, dipanggil untuk dimintai keterangannya terkait penyelidikan dugaan korupsi revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru.

Hal itu dikatakan Dwi saat ditemui usai dirinya menjalani pemeriksaan. “Ditanya-tanya soal Masjid Raya,” jawabnya sambil berjalan menuju mobilnya.

Asisten Pidsus Kejati Riau, Sugeng Riyanta SH MH saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya saat ini memang sedang fokus menangani sejumlah perkara korupsi. Termasuk salah satunya penyelidikan dugaan korupsi revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru.

“Kan ada beberapa kasus kita tangani, termasuk ini (revitalisasi Masjid Raya). Kita lakukan pemanggilan saksi-saksi, jadi saya tidak ingat siapa-siapa saja orangnya, karena banyak yang kita panggil,” tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Bengkalis Muhammad, juga pernah dipanggil Kejati Riau untuk dimintai keterangannya terkait dugaan korupsi ini. Muhammad diketahui pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Riau. Proyek revitalisasi Mesjid Raya ini sendiri, berasal dari Dinas PU Provinsi Riau.

Asisten Pidsus Kejati Riau, Sugeng Riyanta SH MH sebelumnya pernah mengatakan, dari penyelidikan yang dilakukan, diperkirakan dana APBD Riau yang telah dikucurkan sudah mencapai miliaran rupiah. “Kalau tidak salah, proyek itu sudah berjalan dari tahun 2009. Dan tahun lalu dikabarkan dana itu masih dikucurkan untuk revitalisasi itu,” katanya.

Terkait dengan tim revitalisasi yang diduga telah menghancurkan bangunan masjid sebagai cagar budaya, menurut Sugeng, sebaiknya kasus itu dilaporkan ke instansi lain.

“Kita hanya menangani dugaan korupsinya. Kalau masalah cagar budayanya, silakan saja laporkan ke instansi lain, karena itu juga pidana,” jelasnya lagi.

Kejati Riau baru saja memulai penyelidikan dugaan korupsi ini.  Kejati Riau mengusut dugaan korupsi pembangunan mesjid tersebut, setelah menerima laporan dari pemerhati cagar budaya.

Dalam laporan itu, diduga ada penyimpangan anggaran yang dialokasikan untuk revitalisasi pembangunan Masjid Raya Pekanbaru. Berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, anggaran itu dari APBD tahun 2009 hingga 2011. Anggarannya sekitar Rp46 miliar lebih.mxm