Setelah Berhubungan Badan 10 Menit, Korban Dibunuh


riaupotenza.com
Kapolresta Pekanbaru, Susanto bersama jajaran saat mengekspos pengungkapan kasus pembunuhan, Rabu (6/9). Foto Idon Tanjung

KOTA (RPZ)- Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pekanbaru dan Unit Reskrim Polsek Tenayan Raya, sukses mengungkap kasus pembunuhan Santi Lestari (almh).

Pelaku berhasil ditangkap, Selasa (5/9) sekitar pukul 20.00 WIB di Jalan Utama, Perumahan Cikara, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru.

Pelaku adalah Bagas Aris Pradeka alias Aris bin Johanes (30), warga Jalan Putra Panca, Kecamatan Bukit Raya dan juga beralamat di Jalan Markisa, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Pelalawan.

Pengakuan Bagas nekad membunuh Santi Lestari dengan alasan sakit hati, yang dipicu oleh transaksi narkoba.

Hal itu diceritakan Bagas pada riaupotenza.com, saat diekspos di Polresta Pekanbaru, Rabu (6/9) siang.

Kasus ini bermula pada Jumat (25/8) lalu, pelaku meminta korban untuk membelikan sabu paket Rp300 ribu.

Namun pada saat itu korban tidak bisa dihubungi melalui sambungan telepon. Sehari setelah itu, Sabtu (26/8) barulah korban bisa dihubungi lagi.

"Saya tanya dia (Santi) kenapa tidak bisa angkat telepon. Korban ngaku pada malamnya di rumah adeknya menggosok pakaian. Kemudian pada hari Minggu (27/8) barulah saya disuruh datang ke rumahnya di Jalan Mangga Besar," cerita Bagas.

Lalu pelaku datang ke rumah korban menggunakan oplet. Sesampainya disana sekitar pukul 07.00 WIB, Bagas menanyakan paket sabu. 

Sehingga korban meminta uang Rp100 ribu untuk pembelian sabu tersebut. Pelaku masuk ke kamar korban secara bersamaan.

"Saya pakai sisa sabu yang terletak diatas kasur. Lalu korban mau pergi ke Tenayan Raya. Sepulang dari itu barulah dikasih barang (sabu) tersebut," katanya.

Sambil mengisap sabu, Bagas mengajak Santi Lestari berhubungan badan. Korban pun bersiap melayani pelaku.

"Dia minta uang jajan sama saya, lalu saya kasih Rp65 ribu. Setelah itu kami berhubungan badan lebih kurang 10 menit," akui pria lajang itu.

Saat menikmati tubuh korban, spontan terlintas dibenak Bagas untuk membunuh Santi, karena merasa dipermainkan oleh korban.

"Saya sakit hati dan kesal sama korban. Karna tidak memenuhi janji sesuai dengan kesepakatan awal untuk pembelian paket sabu," kata Bagas.

Dia pun langsung mengeksekusi korban dengan cara mencekik leher korban menggunakan tangan lalu dihempaskan kepala korban ke lantai sebanyak tiga kali. Cekikan pun lepas.

Kemudian pelaku mendapati korban dalam keadaan susah bernafas. Tanpa pikir panjang, Bagas menginjak leher korban menggunakan kaki sebelah kiri dan melonjak-lonjak lima kali.

"Saya lihat korban tidak bergerak lagi (tewas), lalu saya tutup wajahnya dengan handuk," sebutnya.

Sebelum kabur, Bagas menyempatkan diri untuk mengambil perhiasan emas, uang, Hp dan sepeda motor Yamaha Mio milik korban.

"Setelah itu saya meninggalkan korban di rumahnya dan mengunci rumah korban menggunakan gembok yang saya dapat di rumah korban," katanya lagi.

Bagas mengaku lari ke rumahnya di Jalan Utama, Kecamatan Bukit Raya. Selama pelarian, dia menjual sepeda motor korban seharga Rp700 ribu dan Hp Rp100 ribu kepada kawannya.

Uang hasil penjualan barang milik korban habis untuk belanja sehari-hari. Sedangkan perhiasan emas belum sempat dijual.

Usut demi usut, ternyata Bagas residivis kasus pembunuhan di Rokan Hulu (Rohul) tepatnya di Pasir Pengaraian pada tahun 2007 silam.

Dia membunuh seorang lelaki dewasa akibat pertengkaran. Semasa itu Bagas masih berusia 16 tahun.

"Saya masuk di LP anak Pasir Pengaraian waktu itu," jujur Bagas.

Setelah keluar dari penjara, pada bulan Mei lalu tahun ini. Hidupnya pun tak menentu. Tidak memiliki pekerjaan tetap.

Kemudian pada bulan Juni lalu, Bagas berkenalan dengan Santi Lestari (korban yang dibunuhnya). Selama kenal, ia mengaku sering melakukan hubungan badan dan korban.

"Sering kali. Tak terhitung. Sekali main Rp100 ribu. Kami juga ada sesama Makai sabu," kata Bagas.

Pelaku Ditembak Polisi

Tim Satreskrim Polresta Pekanbaru dan Polsek Bukit Raya, terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas. Pasalnya tersangka mencoba melarikan diri.

Dua tembakan polisi mengenai kaki  sebelah kanan pelaku. Saat itu pelaku langsung ditangkap.

Hal ini disampaikan Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Susanto saat eskpos, Rabu (6/9) siang.

Dalam ekspos itu, Kapolresta didampingi Kasat Reskrim, Bimo Ariyanto, Kapolsek Tenayan Raya, Kompol Ramadani, Kasubag Humas, Iptu Polius Hendriawan dan jajaran.

"Tersangka ditangkap di rumahnya setelah penyelidikan lebih kurang satu minggu," kata Santo, sapaan akrab Kapolresta Pekanbaru.

Dari pelaku, lanjut dia, diamankan barang bukti 1 buah kalung logam, 1 buah cincin, 2 buah jam tangan, 1 buah kalung, 1 unit HP dan 1 unit sepeda motor. Seluruh barang bukti milik Santi Lestari.

Santo membenarkan bahwa tersangka Bagas adalah residivis kasus pembunuhan. 

Setengah keluar dari penjara, pelaku kembali nekad melakukan perbuatan yang sama. Kali ini lebih sadis dari sebelumnya.

Dalam penyelidikan kasus ini, lanjut Santo, dilakukan secara maksimal. Mulai dari olah tempat kejadian perkara (TKP), meminta keterangan saksi-saksi dan mencari keberadaan pelaku.

"Alhamdulillah, kasus ini cepat kita ungkap," ungkap Santo.

Dia menambahkan, motif pembunuhan ini berkaitan dengan transaksi narkoba antara pelaku dengan korban.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka Bagas dijerat dengan Pasal 340 pembunuhan berencana dan Pasal 338 tentang penganiayaan yang menyebabkan seseorang meninggal dunia dan atau 365 tentang pencurian dengan kekerasan (curas). Maka tersangka diancam penjara seumur hidup.

Pemberitaan sebelumnya, seorang warga bernama Santi Lestari, ditemukan tewas di dalam kamar rumahnya, Rabu (30/8) sekitar pukul 09.30 WIB.

Jasad korban ditemukan sudah membusuk. Dalam proses otopsi di RS Bhayangkara, ditemukan bekas luka benda tumpul pada leher korban. Sehingga polisi menyimpulkan bahwa kroban diduga dibunuh.(don)