Membangun dengan Konsep Kebersamaan


riaupotenza.com

Oleh : Agusyanto Bakar, SSos.,MSi

Berdomisili di Kabupaten Meranti

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa logo yang digunakan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-72 (17 Agustus 2017) adalah angka 72 dan kata-kata  "Indonesia Kerja Bersama".  Diunduh melalui situs resmi Kementerian Sekretariat Negara di setneg.go.id menjelaskan, angka "7" pada logo menjadi simbol anak panah yang menyerong ke kanan atas melambangkan dinamisme pembangunan yang berorientasi ke masa depan yang positif. 

Sedangkan letak dan posisi angka "2" pada logo yang terlihat merangkul angka "7" melambangkan asas kebersamaan dalam bekerja membangun bangsa Indonesia dan mencapai target yang telah direncanakan. 

Dengan demikian, logo dan slogan yang di gunakan dalam peringatan HUT RI ke-72 mengandung pesan penting tentang arti sebuah kebersamaan. Betapa tidak, "kerja bersama" menunjukkan pendekatan yang bersifat merangkul dan memperlihatkan asas kebersamaan serta gotong royong dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik. 

Sedangkan "Bersama kerja" menunjukkan ajakan dan himbauan untuk bersama-sama bekerja membangun kemajuan Indonesia dan mencapai target yang telah direncanakan. Tak pelak, kata kuncinya adalah kebersamaan atau bersama-sama.

Namun apapun itu, yang jelas entah kebetulan atau tidak, logo dan slogan yang di gunakan dalam peringatan HUT RI ke-72 yang mengandung pesan penting tentang  arti sebuah kebersamaan mengingatkan saya pada pidato Bupati Meranti Drs. Irwan, MSi saat pelaksanaan apel memperingati hari jadi Kabupaten Meranti ke-4 di taman Cik Puan, Rabu 19 Desember 2012 lalu : “…Kunci keberhasilan tentunya tidak bisa membiarkan Pemerintah berjalan sendiri dan perlu peran aktif semua pihak dengan mendorong dan mengawal pembangunan di Kabupaten Meranti.

Dengan semangat kebersamaan yang kita miliki, mari kita lanjutkan pembangunan serta menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.” Selanjutnya dalam acara penetapan Bupati/Wakil Bupati terpilih oleh KPU Kabupaten Meranti, tepatnya Rabu 27 Januari 2016 pasca pelaksanaan Pilkada serentak 09 Desember 2015 lalu, Bupati Irwan kembali mengingatkan hal yang sama : “Mari bersama-sama bersatu padu membangun Meranti!” Bahkan tak berhenti sampai di situ, karena hal yang sama (pentingnya semangat kebersamaan), juga di sampaikan Bupati pada cara Musrenbang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kepulauan Meranti pada Kamis 21 Juli 2016 lalu.

Dalam konteks ini, membangun melalui konsep kebersamaan sebagaimana yang kerap disampaikan Bupati Meranti di berbagai kesempatan, seperti ingin menjelaskan kepada kita, bahwa begitu krusial dan indahnya nilai sebuah kebersamaan. 

Kebersamaan karenanya dapat dikatakan sebagai persatuan atau bersatu. Bahkan simbolisasi persatuan secara nasional yang telah diterima sebagai sebuah semboyan bangsa adalah Bhinneka Tunggal Ika. Tidak dapat dibayangkan, bila semboyan itu dilalaikan dan diabaikan, maka kemerdekaan rasanya sulit untuk dapat kita raih. 

Saya menduga atas dasar ini pula, pemerintah memilih logo HUT Kemerdekaan RI ke-72 dengan semboyan : "Indonesia Kerja Bersama”. Hal ini paling tidak, tergambar lewat ilustrasi yang di kemukakan oleh seorang filsuf terkemuka Indonesia Prof, Dr N. Driyarka yang mengatakan : “Menurut strukturnya ada kita, baru ada bersama. Manusia tidak hanya meng-Aku, dia juga meng-Kita. Aku selalu memuat engkau serta hanya dengan dan dalam pertemuan dengn engkaulah, aku menjadi aku”. 

Ungkapan filsuf Driyarka  ini semacam mempertegas, bahwa secara eksistensial manusia mesti membangun kebersamaan dalam hidup, bahkan yang dinamakan jati diri akan semakin tampak dalam sebuah kebersamaan. 

Singkat kata, kebersamaan dalam hidup adalah sesuatu yang sangat fundamental dan esensial sifatnya. Bahkan masalah pokok yang di utarakan oleh Gabriel Marcel dalam karya ilmiahnya adalah masalah Filsafat Kebersamaan. Marcel menyimpulkan, bahwa manusia sejatinya berorientasi pada kebersamaan ontologis (keberadaan sesuatu yng bersifat konkret) dan manusia akan merasa tidak lengkap atau utuh dan mengalami frustrasi bila di sendirikan atau mengurung diri lepas dari berbarengan dengan sesama. Ini adalah teristimewa nyata bagi manusia yang sadar diri : Dalam dirinya terkandung tuntutan-tuntutan ontologis akan pemenuhan, akan transendensi dan akan keutuhan bersama dalam semangat kebersamaan. 

Pertanyaannya adalah, mengapa nilai kebersamaan itu begitu penting? Pertama, dalam konteks pembangunan, melalui kebersamaan akan tercipta harmonisasi dan komunikasi pada seluruh pemangku kepentingan (Stakeholder) dalam mengakselerasi pelaksanaan pembangunan di segala bidang. 

Kedua, melalui kebersamaan, akan menyatukan perspektif dan arah pandang. Ini sejatinya merupakan modal dasar dalam mewujudkan visi-misi pembangunan yang telah di canangkan.

Ketiga, melalui kebersamaan, berpotensi dalam mewujudkan kesatu-paduan untuk stabilitas yang dinamis : Suatu keadaan masyarakat yang tenang tapi bersemangat penuh dinamika sehingga dapat menjalankan fungsi-fungsi yang di milikinya dengan baik, sesuai dengan kedudukan dan kapasitas masing-masing. Sebab, setiap orang dalam kedudukan dan kapasitas masing-masing sesungguhnya sudah memiliki semangat dan gelora untuk membangun di dalam sanubarinya. Jika tidak, maka sudah bisa di pastikan orang tersebut sudah kehilangan semangat dan motivasi untuk maju dan berkembang.

Keempat, melalui kebersamaan, akan tercipta iklim yang kondusif untuk keterbukaan dan tranparansi. Karena kebersamaan akan membuka ruang bagi tumbuh dan berkembangnya iklim keterbukaan yang sejatinya merupakan salah satu pilar penting dalam demokrasi : Menyampaikan ide-gagasan, tukar pikiran dan olah pikir, termasuk dalam bentuk kritik konstruktif dalam kelancaran pelaksanaan pembangunan.

Kelima, sharing and caring. Hanya dalam situasi dan kondisi yang berdasarkan nilai-nilai kebersamaanlah, maka sikap kritis, langkah inovatif dan kreatif bagi kemajuan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan dapat lahir dan tercipta.

Tak pelak, melalui semangat kebersamaan setiap proses pelaksanaan pembangunan akan selalu diletakkan dan diorientasikan semata-mata untuk kepentingan bersama, karena nilai-nilai kebersamaan yang terwujud adalah kebutuhan bersama akan pelakanaan pembangunan yang berkeadilan. 

Dalam konteks ini tentu saja kepentingan golongan-individual, sikap cari muka untuk kepentingan subjektif, sikap egosentris-entosentrisme sama sekali tidak relevan untuk di bicarakan di sini, karena tidak menujukkan kemanfaatan, tapi malah berpotensi menggerus nilai-nilai kebersamaan itu sendiri. Dus, sudah saatnya kita berempati satu sama lain, saling menghargai dan mensyukuri potensi yang dimiliki, menghentikan penyakit jiwa saling curiga, intersinisme, pragmatisme, isu-isu destruktif, obrolan-obrolan dimedia sosial yang terkadang  tanpa kita sadari telah menelanjangai kekerdilan cara berfikir kita.

Oleh karenanya, menyadari bahwa kunci keberhasilan pembangunan itu adalah dengan tidak membiarkan Pemerintah berjalan sendiri, karena pemerintah memerlukan peran aktif semua pihak untuk mengawal pembangunan dalam semangat kebersamaan yang kita miliki. Sebab, membangun dengan konsep kebersamaan menjadi modal sosial, dan resources yang tampil sebagai energi penggerak dalam mendorong dinamisasi dan percepatan pelaksanaan pembangunan, khususnya di bumi lancang kuning ini yang dalam lima tahun terakhir ini tidak terlihat perkembangan yang cukup signifikan untuk tidak mengatakannya stagnan!

Maka yang di butuhkan saat ini adalah, membangun kebersamaan dalam menggagas jaringan bersama secara objektif dan konstruktif dalam mendorong dan mendukung pembangunan dengan konsep kebersamaan yang diusung dan menjadi rekam jejak terutama dalam Pilgubri 2018 mendatang, agar bumi lancang kuning ini menjadi negeri yang cemerlang, gemilang dan terbilang : Bukan untuk siapa-siapa, tetapi dari, oleh dan untuk kita semuanya! Wassallam.