Peselingkuhan Istri Sulit Kumaafkan


riaupotenza.com

Memaafkan istri selingkuh adalah salah satu cobaan maha berat yang pernah aku jalani. Meski mulut mengatakan maaf tapi hati tak bisa bohong dan selalu mengingat pengkhianatan itu.
 
Sebelas tahun sudah aku membina rumah tangga bersama orang yang sangat kucintai dan kusayangi. Pahit manis suka duka kehidupan telah kami lalui bersama, sampai kami dikaruniai dua orang anak laki-laki dan perempuan.
 
Sampai suatu hari, atas persetujuan kami berdua, aku memutuskan untuk pergi bekerja 
di Lampung untuk menambah pemasukan kami, aku bekerja di sebuah pertambangan emas.
 
Sekian bulan aku berjuang untuk mencari hasil yang memuaskan. Rintangan dan cobaan serta penderitaan aku hadapi dengan tegar dengan penuh keyakinan dan selama itu aku selalu menjaga kesetiaan dan kesucian pernikahan kami.
 
Tapi sekian lamanya aku berjuang semakin lama tingkah laku istriku semakin berubah. Terdengar kabar ia berhubungan dengan seorang pria. Kunasehati lewat SMS atau telpon tapi ia berbohong dan tak  mengakuinya. 
 
Dari jauh aku hanya bisa menahan rasa sakit,  cemburu, kesal, dan marah kadang sering kali tak tertahankan. 
 
Aku pulang setelah masa kerjaku mencapai satu tahun dua bulan. Saat kepulanganku yang pertama begitu banyak kutemukan perubahan sikap pada istriku. Kutemukan kejanggalan dalam sikap istriku terhadapku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak karena aku tak punya bukti apapun. 
 
Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa istri selingkuh saat aku sedang mencari uang di negeri orang.
  
Hingga bukti itu kudapatkan. Tanpa sengaja saat kulihat handphone istriku yanga tertinggal di rumah, barulah ketahuan, banyak obrolan melalui BBM antara ia dan lelaki selingkuhannya. 

  Isinya, alamaaak, sangat memalukan bila kutuliskan di sini.
   
Sesampainya istriku di rumah tak banyak basa-basi lagi aku langsung menanyakan tentang pria itu tapi dia menyangkal dan tak mau mengakui perbuatannya itu sampai aku tunjukkan bukti obrolannya di BBM. 
  
Tanpa bisa berkutik, ia akhirnya tertunduk dengan wajah pucat pasi. Saat itulah, betapa aku sendiri bingung harus kuapakan wanita yang sudah melahirkan anak-anakku itu. 
 
Betapa hancurnya hatiku saat itu. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sangat sedih melihat kedua anakku yang masih kecil-kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.
 
Entah sampai kapan luka ini akan sembuh, bayangan istri selingkuh dengan pria lain terus menghantuiku. 

 Ternyata suatu hubungan pernikahan jika telah ternodai oleh perselingkuhan tak seindah dulu. Ibarat kain putih yang terkena noda, terasa tak nyaman mengenakannya. Tak seperti dulu saat kain itu masih putih tanpa noda. 
  
Aku selalu berharap agar aku bisa memaafkannya walau pun tak mungkin bagiku bisa melupakan sakit hati ini. Luka bisa saja sembuh tapi luka itu akan tetap membekas dan tak kan bisa hilang.  ***