Mimpi Indahnya Itu tak Terwujudkan


Banyak wanita membayangkan pernikahan adalah sebuah dunia yang indah, demikian juga mimpi Masni (sebut saja begitu). Namun ternyata mimpi indahnya tak terwujud malah berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Inilah penuturan Masni tentang kisah hidupnya.

 Ketika aku menikah dengan suamiku, dan membentuk sebuah keluarga, kami pindah ke kota ini. Dengan sebuah pengharapan yang besar, aku memulai kehidupan yang baru. Sebuah keluarga yang ideal dan bahagia.

 Namun kehidupan ternyata tidak seindah bayanganku. Ketika suamiku mulai berhasil usahanya, dia mulai lupa akan keluarga. Dia melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga.

Saat aku mengingatkannya, semua itu berakhir dengan pertengkaran dan tak jarang pukulan dilayangkannya kepadaku. 

  Puncak dari kemelut rumahtanggaku terjadi empat tahun lalu. Saat itu dengan terang-terangan suamiku mengaku telah menikahi perempuan lain. Tanpa rasa bersalah dan rasa kasihan, ia mengultimatumku: setuju atau tidak, ia tak peduli. 

  Akhirnya dia pergi meninggalkanku bersama ketiga buah hatiku tanpa meninggalkan apapun untuk kami. Tanpa kata talak atau cerai. Kalau boleh kusebut, dia benar-benar pergi tanpa rasa bersalah sedikitpun, tanpa rasa kasihan padaku dan darah dagingnya sendiri. 

 Aku berjuang membesarkan ketiga anakku. Aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan baik. Aku melakukan segala cara untuk bisa menyekolahkan dan memberi makan mereka. 

 Dalam kondisi sulit seperti itu, aku terus memperjuangkan kehidupan anak-anakku. Aku mulai melamar pekerjaan dimana-mana. Terkadang ada teman yang telah mengenalku dengan baik sengaja memintaku bekerja ditempatnya. Hasil kerja saya itu bisa mencukupi kehidupan selama satu bulan, dari sekolah anak-anak, membayar kontrakan hingga makan sehari-hari.
 
Mulai saat itu aku mulai bekerja sebagai pegawai pengganti dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Aku menggantikan pegawai yang sedang cuti ataupun hamil. Jika ada pegawai yang hamil, aku sangat senang sekali, karena itu artinya aku bisa bekerja selama tiga bulan. Itu sangat lumayan sekali bagiku, karena uangnya aku bisa simpan untuk keperluan yang akan datang.

Perlahan-lahan kehidupanku dan anak-anakku mulai membaik. Satu hal yang membuatku bisa melewati semua masa sulit itu adalah adanya sebuah tekad yang tertanam dalam hatiku, “Aku harus menjadi panutan bagi anak-anakku.” Aku ingin anak-anakku bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang benar dari diriku.

 Jika orang lain berpikir aku bisa saja menghalalkan segala cara sehingga aku bisa lebih mudah melewati kesulitan-kesulitan yang menghadangku, aku berkata pada diriku, aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau menghalalkan segala cara, karena dalam hatiku ada takut akan Tuhan. 

  Empat tahun berlalu, tiba-tiba lelaki yang telah menghancurkan dan menelantarkan aku dan anak-anak muncul dalam kehidupan kami. Kemunculannya membuatku terkejut. Antara rindu dan juga benci. Kebencianku memang teramat sangat. Namun aku tak bisa berbohong pada hati, karena ternyata ia masih menyisakan cinta untuk lelaki itu. “Kami sudah bercerai,” itu ucapannya di hadapanku.

  Namun tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku menanggapinya. Aku sudah tahu kemana ujung pembicaraan yang diinginkannya. 

  Dan benar saja. Dengan kata-kata memelas ia menceritakan bagaimana kehidupan pernikahannya dengan perempuan yang sudah merebut lelaki itu dari kehidupan  kami. Singkat cerita, akibat usahanya terus mengalami kemerosotan, hubungan mereka terus dihantam pertengkaran. 

  Mereka berpisah. Si perempuan menghilang entah kemana. Tinggallah lelaki yang ada di depanku ini menjadi manusia tak berharga, merasa dikhianati.

  “Dengan segala maaf, Bang. Biarkan kami begini. Jangan Abang usik lagi. Sudah cukup penderitaan yang Abang berikan padaku dan anak-anak. Cukup bagi kami!” kata-kataku meluncur begitu saja. Menyakitkan baginya, namun itulah keputusanku. 

  Wanita memang lemah dan bisa diperlakukan sesukanya. Itu dulu, tapi tidak sekarang. Hatiku sudah tertutup untuk mantan suamiku. ***