Suami Mumbuat Psikis Ku Sangat Tersiksa


Panggil saja saya Lia, usia 23 tahun. Saya termasuk menikah di usia muda, kurang lebih  1 tahun yang lalu. Suami juga seusia dengan saya, cuma terpaut empat bulan. Saat ini kami belum dikaruniai anak.  
 
Suami saya, sebut saja Tama. Dulu kami kuliah di kampus yang sama. Setelah berpacaran kurang lebih tiga tahun, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Alasan menikah karena saat itu kami menjalin hubungan jarak jauh karena masing-masing kami berprofesi sebagai PNS di provinsi yang berbeda. Kami harus resmi sebagai suami istri agar saya bisa mendapat ijin mutasi ikut suami.

 Dari sejak pacaran saya sudah tahu watak Tama. Orangnya baik, setia, dan perhatian. Tama adalah pacar kedua saya. Karena saya punya trauma dengan pacar pertama yang mengkhianati saya dengan perempuan lain.

  Tama punya plus tersendiri di mata saya karena dia begitu setia. Tapi tidak jarang sifat pemarah Tama membuat saya ingin mengakhiri pernikahan ini. Ketika sedang marah, Tama sering memukul tembok, banting barang, atau gebrak meja. Padahal marahnya cuma karena hal sepele. Tama juga sangat-sangat pencemburu. Pergaulan saya agak dibatasi kalau dengan laki-laki. Misalnya saya tidak boleh tersenyum atau menyapa duluan ketika bertemu teman laki-laki.

 Sering saya menangis. Namun saya selalu bersabar, karena saya pikir sifat seperti itu suatu saat bisa saja berubah. Akhirnya selama ini, saya lebih banyak mengalah.

 Penyebab semua itu adalah kisah enam bulan sebelum kami menikah. Saat  seluruh persiapan pernikahan telah rampung, saya bertemu dengan laki-laki yang usianya lebih muda empat tahun dari saya. Sebut saja namanya Rico. Awalnya Rico cuma saya anggap sebagi sahabat dan partner curhat yang baik. Walaupun usianya di bawah saya, tapi Rico sungguh bijaksana. 

 Berawal dari rasa kagum dengan cara berfikir Rico yang lebih dewasa dari umurnya dan sifatnya yang begitu santun, lama-lama benih cinta muncul di hati saya. Tapi saya sadar diri dengan status saya yang sebentar lagi akan menikah, apalagi yang saya tahu Rico sudah punya pacar di kota lain. Saya tidak mau merusak hubungan orang. Akhirnya perasaan ini cukup saya pendam dalam hati.

 Hingga dua minggu sebelum hari H pernikahan, saya sudah tak sanggup lagi menahan. Saya katakan yang sejujurnya isi hati saya. Ternyata saya begitu kaget dengan reaksi Rico. Dia juga selama ini punya perasaan yang sama dengan saya, namun dia begitu takut berkata jujur karena dia tidak mau merusak rencana pernikahan saya apalagi usianya empat tahun di bawah saya membuat dia merasa minder untuk menyatakan cinta.

 Dengan perasaan menyesal bercampur ragu, saya terpaksa terus melanjutkan pernikahan. Saat itu yang ada di fikiran saya hanya orangtua dan keluarga besar. Saya terlalu takut untuk membuat malu mereka, karena semua persiapan sudah selesai dan undangan sudah disebar. Rico begitu sedih melepas saya. Dia depresi, begitu juga dengan saya.

  Tapi apa mau dikata, bagi saya nama baik orangtua tetap yang utama. Saya terpaksa merahasiakan dari Tama, apa yang pernah terjadi antara saya dan Rico. Beberapa bulan setelah menikah, saya akhirnya mutasi ke Pekanbaru.

 Tak disangka Tama akhirnya mengetahui tentang keakraban saya dengan Rico di masa-masa menjelang pernikahan kami dahulu. Tama marah besar. Dia meninju tembok berkali-kali. Saya berusaha menenangkan dan meminta maaf. Saya jelaskan bahwa itu hanyalah masa lalu yang tak perlu dibawa dan diungkit-ungkit lagi karena hanya akan menganggu pernikahan kami jika diungkit terus. 

Tapi nampaknya sejak itu Tama jadi dendam dengan saya. Dia juga semakin over posesif dan sangat curigaan. Tidak jarang saya dituduh selingkuh dengan berbagai alasan. Padahal semua tidak ada buktinya sama sekali
.
 Sejak menikah juga perangai Tama menjadi semakin pemarah. Tama juga sangat boros. Sama sekali dia tidak menggubris nasehat saya agar ia mulai memikirkan untuk menabung, demi masa depan kami, dan kelak kalauo punya anak. 

  Saya pernah menyindirnya, jatah makan saya lebih baik dia simpan untuk tabungan bersama. Bukannya merasa tertampar dengan perkataan saya, Tama malah seolah-olah senang karena tidak perlu membiayai hidup saya lagi. Berapa penghasilannya per bulan pun saya tidak tahu persis, karena Tama tidak transparan soal keuangan.

 Satu lagi hal yang membuat saya sedih. Tama makin sering ke luar rumah bersama teman-teman masa lajangnya.
 Terus terang saat ini saya benar-brnar tertekan dengan sifat Tama. Saya sudah berusaha menasehatinya dengan cara pelan ataupun keras, tapi semua tidak berhasil. Tama terlalu keras kepala dan egois. Saat ini berat badan saya sudah turun drastis gara-gara pikiran yang selalu risau sepanjang hari hingga makan pun tak bernafsu.  Memang Tama belum pernah menyakiti saya secara fisik, tapi sungguh psikis saya sangat tersiksa.

 Apa saya harus menggugat cerai? Pikiran ini makin kuat mengganggu. Namun di sisi lain saya tetap berharap rumah tangga ini tetap bertahan. Seperti pernah diingatkan pang penghulu waktu menikah dulu, bahwa di awal-awal pernikahan akan banyak godaan dan masalah, kami harus kuat menghadapinya. Tapi kini, aku merasa tak mampu terus menerus menghadapi persoalan ini. ***